Tuesday, March 14, 2006

Myanmar, Land of Gold

Rabu, 08 Maret 2006: Yangon
Pk. 09.20 pesawat mendarat dengan selamat di bandara udara Yangon. Memasuki gedung airport yang sedang direnovasi, terlihat antrian di counter imigrasi. Setiap counter imigrasi ditempati oleh 2 petugas. Petugas pertama bertugas memasukkan data ke komputer, dan petugas kedua untuk memeriksa dan men-cap passport. Oleh karena itu, antrian untuk setiap counter hanya satu baris. Jadi bagi yang pertama kali ke myanmar, jangan sampai "tergoda" untuk membuat antrian baru.

Dari airport, dijemput oleh Hotel Nikko Royal Lake Yangon. Perjalanan sampai ke hotel yang terletak di dekat kandawgyi Lake ini, sekitar 25 menit.

Tempat yang pertama dikunjungi adalah shwedagon pagoda. Tempat wajib kunjung di Yangon. Tiket masuk USD 5 dan untuk brosur USD 1. Pagoda ini terletak di Sanguttara hill. Untuk masuk ke kompleks pagoda ini dapat lewat tangga yang terdapat di keempat sisi kompleks pagoda atau naik lift. Setiap tangga diapit oleh sepasang singa besar. Pagoda dengan tinggi hampir 100 meter ini seluruhnya berwarna emas, dan puncaknya dihiasi dengan berlian dan batu pertama lainnya. Di kompleks ini banyak orang yang berdoa, dan juga selalu terdengar doa-doa yang diucapkan oleh para biksu melalui pengeras suara.

Selepas dari Shwedagon Pagoda, kami kemudian pergi ke Dagon Mall untuk membeli bekal selama perjalanan ke Mandalay. Dari sini kemudian balik ke hotel dan makan malam di hotel.

Kamis-Jumat, 09-10 Maret 2006: Yangon - Mandalay
Pagi-pagi kami berangkat ke Sule Paya, yang sayangnya saat kami tiba sedang dalam renovasi. Tampak luar pagoda semuanya ditutup, sehingga kami tidak dapat melihat permukaannya yang dilapis warna emas. Namun bagian dalamnya tetap dapat dimasuki. Sekeliling kompleks Sule Paya yang berbentuk lingkaran ini terdapat kios-kios yang menjual beraneka macam barang, termasuk barang-barang keperluan untuk berdoa. Sule Paya terletak di pusat kota Yangon- pertemuan antara Mahabandoola Rd dan Sule Paya Rd. Disekitarnya terdapat City Hall-yang bergaya arsitektur colonial, Mahabandoola Garden-yang ditengahnya terdapat independence monument dan juga Myanmar Travels & Tours (MTT). Karena merupakan pusat kota, maka daerah ini sangat ramai-dengan kendaraan, gedung perkantoran, ruko, hotel dan guesthouse. Sepanjang Sule Paya Rd. terdapat ruko-ruko yang menjual aneka barang, dan juga bioskop yang saat itu sedang memutar film King Kong (terlambat 3 bulan dibanding Bangkok).

Dari sini kami kemudian pergi ke Strand Hotel, hotel bersejarah yang terkenal dan termahal di Yangon, dan walking tour di sekitar area ini yang banyak terdapat bangunan-bangunan bergaya arsitektur colonial. Di jalan-jalan sekitar area ini terdapat banyak tea house-salah satu aktivitas yang biasa dilakukan orang Myanmar.

Tempat berikut yang kami kunjungi adalah Kandawgyi Lake. Di danau ini dapat terlihat refleksi Shwedagon Paya. Dalam kompleks ini terdapat Karaweik, restaurant yang berbentuk royal barge. Didekat resto ini juga terdapat beberapa resto kecil lainnya dan beberapa hewan (diantaranya kijang) yang ditaruh dalam kandang.

Selesai chek-out, kami pergi makan siang di restaurant masakan myanmar, Feel. Selesai makan kami kemudian pergi ke Bogyoke Market, yang merupakan tourist market. Karena Myanmar kaya akan batu-batu permatanya, maka selain souvenir, di pasar ini banyak yang menjual batu-batu permata terutama jade, rubi dan mutiara, dengan harga yang relatif tidak mahal.

Pk. 04.30 sore kami tiba di terminal bus (penumpang harus tiba ½ jam sebelum waktu keberangkatan) untuk perjalanan ke Mandalay. pk. 05.30-mundur ½ jam dari jadwal, bus berangkat. Karena sedang memasuki masa liburan sekolah, bus padat dipenuhi penumpang, bahkan sepanjang lorong antar kursi ditaruh kursi tambahan. Selama perjalanan, bus berhenti beberapa kali-pk. 08.30 malam berhenti untuk makan malam, pk. 02.00 berhenti di tea shop. Setelah itu bus sempat berhenti 2 kali untuk ganti ban, 1 kali untuk pemeriksaan, dan di Pyinmana bus sempat berhenti cukup lama, karena ada antrian pemeriksaan truk. Sekitar pk. 08.00 pagi, bus memasuki daerah Meiktila, dan behenti sekali di tea shop untuk sarapan. Sekitar pk. 12.00 akhirnya sampai di Mandalay-terlambat sekitar 4 jam dari jadwal semula.

Setiba di terminal bus mandalay, kami dijemput oleh tour travel dan langsung check in di Hotel Hong Ta (USD 25/malam) yang terletak di No. 176, 82nd st, between 25th & 26th st., Aung Myay Thar San Townshio. Kemudian makan siang di restaurant myanmar too too. Selesai makan kemudian pergi ke Royal Palace, dengan membayar USD 10 (tiket masuk ini berlaku untuk mandalay archeological zone termasuk Amarapura, Inwa, Pinya, Palaik). Kompleks istana ini keempat dibatasi oleh dinding bata yang panjangnya 2 km dan disekelilingnya terdapat kolam selebar 70 m. Bangunan yang ada di dalamnya sebagian besar adalah replika, karena bangunan aslinya musnah terbakar pada waktu perang dunia II. Di dalamnya terdapat beberapa bangunan, yang fungsinya dapat dibedakan dari warnanya.

Dari sini kami kemudian ke Atumashi Kyaung-monastery yang didalamnya terdapat patung Buddha. Yang mengagumkan dari monastery ini adalah bangunannya-bentuk bangunan dan juga bahan bangunan dari kayu yang semua permukaannya penuh dengan ukiran.

Dari monastery ini kami kemudian mengunjungi Sandamuni Paya yang tidak jauh letaknya. kami hanya dapat melihat dari luar karena saat itu tempat tersebut sedang ditutup untuk umum karena ada kunjungan president India. Kami kemudian masuk ke Kuthadaw Paya yang terletak di seberang Sandamani Paya. Kompleks bangunan ini sangat impresif, bagian tengahnya terdapat stupa besar yang dikelilingi 729 stupa kecil-yang didalamnya terdapat prasasti dari marmer yang dituliskan isi tripitaka.

Dari sini kami kemudian menuju ke Mahamuni Paya. Di dalam Paya ini terdapat patung Mahamuni Buddha setinggi 4m yang keseluruhannya dilapis emas (gold leaf). Disekitarnya terdapat banyak orang yang berdoa dan bermeditasi. Dalam perjalanan ke Mahamuni kami sempat berhenti di tempat kerajinan pembuatan gold leaf-lembaran kertas emas yang biasa dipakai untuk melapisi patung Buddha.

Dari Mahamuni Paya kami kemudian menuju ke Amarapura. Dalam perjalanan sempat behenti juga di beberapa tempat kerajinan, seperti kerajinan pembuatan tapestry, pembuatan patung dari bronze, dan pembuatan tenunan sutra. perjalanan ke Amarapura sekitar 20 menit. Di Amarapura kami mengunjungi U-Bein Bridge, jembatan kayu terpanjang di dunia, yang menjembatani danau Taungthaman.

Selesai dari Amarapura, kami kembali ke Mandalay, dan menyempatkan diri melihat sunset dari Mandalay Hill. Dari Mandalay Hill ini acara tour selesai dan kami kemudian diantar kembali ke hotel. Selesai makan malam di hotel, kami kemudian naik trishaw ke tempat teater marionette yang terletak di 66th St, Bet: 26th & 27th st.-di samping sedona hotel. Pertunjukan boneka yang digerakkan dengan tali ini berlangsung sekitar 1 jam, dimulai pada pk. 08.30 malam. Tiket masuk seharga 5.000 Kyat. Di teater ini juga dijual boneka-boneka marionette.

Selesai pertunjukan kami kemudian balik ke hotel dengan menggunakan trishaw yang sama, dengan membayar 2.500 Kyat untuk perjalanan pulang pergi.

Sabtu, 11 maret 2006: Bagan
Pk. 07.55 pagi pesawat kami take off menuju Bagan. Perjalanan dari Mandalay ke Bagan sekitar 30 menit. Kami naik Air Mandalay. Pesawat mendarat di Nyaung U airport. Sesampai di airport, para turis langsung mengurus pembayaran untuk masuk ke Bagan Archeological Site, seharga USD 10. Dari aiport kemudian kami naik taxi menuju Bagan Thande Hotel (USD 35/malam). Tarif taxi sudah dibuat standard, 5.000 kyat untuk ke daerah Old Bagan. Perjalanan dari aiport ke hotel sekitar 20 menit.

Selesai check-in kami kemudian menyewa kereta kuda (lengkap dengan sais-nya), yang ada di depan area hotel. Selain naik kereta kuda (9.000 kyat), untuk keliling bisa juga sewa sepeda (1.500 kyat/hari) atau naik taxi (USD 25).

Pertama-tama kami makan pagi (menjelang siang) di Golden Myanmar, restaurant masakan myanmar yang terletak di dekat pintu utara Ananda Temple. Dengan membayar 2.000 kyat/orang, kami bisa makan sepuasnya (system all you can eat). Selesai makan, kemudian kami mulai mengunjungi temple-temple : Shwezigon Temple (temple wajib kunjung-nya Bagan), Upali Thein Pagoda, Htilominlo temple, Ananda Temple, Thatbyinyu Temple, Sulamani Temple, Dhammayangi Temple, Shwe San Daw Pagoda-salah satu temple yang bisa dinaiki sampai atas, untuk melihat sunset.

Dari Shwe San Daw Pagoda, kami kemudian balik ke hotel. Makan malam di restaurant hotel yang terletak di pinggir Sungai Ayeyarwadi.

minggu, 12 maret 2006: Yangon - Bangkok
Pagi hari kami sarapan sambil menikmati pemandangan Sungai Ayeyarwadi. Selesai chek in kami langsung berangkat ke airport, naik pesawat pk. 08.55 menuju yangon. perjalanan sekitar 1 jam.

Hari terakhir kami di yangon ini, kami manfaatkan untuk mengunjungi beberapa tempat: Inya Lake, Chaukhtatgyi Paya-di mana di dalamnya terdapat patung reclining buddha yang sangat besar, dilapis warna emas.

Selesai makan siang di Feel (lagi), kami pergi ke Bogyoke Market, Shwe Pu Zun-cafetaria dan bakery house yang menjual snack dan dessert khas myanmar, dan Sei Taing Kya Teashop.

Sekitar pk. 6 sore kami tiba di airport yangon. Naik pesawat Thai Airways menuju Bangkok. Pesawat take off sekitar pk. 07.45 malam. 1 jam kemudian, kami tiba kembali di bandara Don Muang, Bangkok.

Note:
passenger service charge: USD 10
tarif bus : 6.500 kyats
tiket pesawat Mandalay – Bagan : USD 30
tiket pesawat Bagan – Yangon : USD 75

perbedaan waktu antara Myanmar dan Bangkok 30 menit (lebih cepat Bangkok)

banyak terima kasih untuk:
Su – teman dalam perjalanan bus dari Yangon ke Mandalay, yang bisa bahasa Melayu, baik banget, dan selalu bantu mesenin makanan setiap kali berhenti di tempat makan.
Myint Myint – yang sudah rela meluangkan waktu hari minggunya untuk nemenin jalan selama hari terakhir di Yangon, ngenalin tempat beli snack khas Myanmar, bantu nawar di Bogyoke Market, reschedule pesawat.

Read & See More…

Thursday, February 16, 2006

Artefacts from Xieng Khuang, Laos

I flew from Vientiane to Xieng Khuang in late December 2005. It had always been my dream to visit Xieng Khuang ever since I got to know Laos. The weather was chilly, for it is uphill in Northern Laos, yet I still enjoyed my vacation there.
Xieng Khuang is very famous for its Plains of Jars. The jars are so huge that it can contain up to 2-3 persons inside. Until now, it remains mistery on how Xieng Khuang has these wonderful jars. There are 2 main hypotheses now on why these jars existed : it was used either for containing human body (burial) or for making wines. The jars dated as far as 4000 BC. It happened that some 6000 years ago Xieng Khuang area was a cross-road amidst wealthy trade routes (the silk road?) in Asia. The civilization in this area was so advanced that they created these huge jars for the unknown reason.
There are 3 sites
containing jars. I went to 2 out of the 3 sites in Xieng Khuang, i.e. site 1 and site 2. I started with site 2 first, it was not as what I expected. There was no feeling of being in a plain, because the location was full of trees and it was uphill. I found only a few jars (less than 100 for sure). Then I went to see the site 1 which is located near the airport. This one is truly a plain with hundreds if not thousands of jars, from small, medium to big and huge ones.
The city of Xieng Khuang itself was a dormant city for many decades. It just opened up recently due to tourism to the plains of jars. What caused the death of this city was the heavy bombardment and mines during the Vietnam war in the 1970s. Laos and particularly Xieng Khuang was used as part of the route of Vietcong guerrilas to march towards South Vietnam. As a result, the US bombarded Laos and Xieng Khuang heavily, so heavy that Xieng Khuang became the world's most bombarded city. Presently, war artefacts being used as furnitures is common sight in Xieng Khuang.

I also visited the market in Xieng Khuang which happened to be open until late afternoon. Just after checking in to the hotel, I had some market visit and witnessed the traditional market way of life in Xieng Khuang which does not differ from other places in Northern Laos. People sell many kind of things, and apart from normal items found in markets in South East Asian cities, shockingly I found somebody selling some - I havent seen before - animal, which to me looked more like a pig gene-mixed with a deer.
Besides the plain of jars, I also visited a famous stupa (amongst Laotians) which is the only one survived the war with the French and the US. The stupa is hollow and one can pass thru it. It looks to me more like a rumbled stupa, however, it is most admired as it managed to survive so many centuries of turbulences in troubled Xieng Khuang. Another survivor of the wars is an old temple with a sitting Buddha statue. This temple as with the Stupa, is now source of admiration amongst Laotians for the same reason : being war survivor.

In Xieng Khuang's "traditional" (yet still much better than Cambodian Rattanakiri airport) airport, I met this 2 cute little girls with their mother on their way to Vientiane. Both seemed to be curious so much about my and another foreigner's laptop. Both of us were uploading our beautiful pictures taken in Xieng Khuang. The people of Xieng Khuang look just as good looking as most Northern Laotian : small eyes, high cheekbones, with fair reddish skin. Northern Laotian is always refered as gold standard of beauty in Laos by Laotians.

Read & See More…

Wednesday, January 11, 2006

Património Mundial de Macau & Zhuhai, China

Perjalanan ke Macau ini bermula dari “keisengan” me dan cang browsing air asia, yang ternyata lagi ada paket perjalanan 3 hari / 2 malam ke macau termasuk akomodasi di Holiday Inn, dengan harga THB 15.147,-.
Setelah acara jalan-jalan ini, image macau sebagai kota yang hanya penuh dengan casino, jadi berubah. Macau ternyata penuh juga dengan objek-objek menarik, yang diantaranya sudah dijadikan world heritage oleh UNESCO, makanan enak (egg tart, dim sum, caldo verde), dan belanja baju dingin yang murah (non-branded).
Pesawat cancel (??!!)
07.00, bangun pagi, beres-beres, sarapan (seperti biasa kalo hari sabtu/minggu : indomie goreng)
07.30, keluar dari apartment, jalan ke depan cari taxi.
08.00, sampai di airport, cek di monitor, counter check in di baris nomor 5. Langsung menuju ke sana, tapi kok tujuan kuala Lumpur. langsung tanya ke petugas check in, dan dapat kabar kalau jadwal pesawat ke macau yang 10.05 dibatalkan. (panik). dan diganti ke jadwal 12.25. (lega campur sebel-udah cape-cape bangun pagi)
08.15, ke counter air asia di airport, minta konfirmasi untuk keberangkatan jam 12.25. sisa waktu, me main civilization di laptop. Cang nonton CNN di TV & “nonton” aktivitas di airport sambil ngemil roti breadtalk yang dibeli kemarin di siam paragon.
10.30, akhirnya bisa check in. antrian lumayan panjang…… tapi semuanya berjalan cepat dan tanpa hambatan.
11.00, bayar airport tax THB 500, masuk ke area imigrasi. Cari antrian yang paling pendek. Selesai dari imigrasi, window shopping di counter-counter, makan siang di KFC. Setelah itu, jalan ke gate 2 untuk boarding. Lokasinya di lantai bawah, turun pakai escalator. Sampai di tempat boarding, udah ramai orang menunggu.
12.15, proses pemeriksaan terakhir sebelum naik pesawat. Sampai di pesawat, cari tempat duduk yang window seat. 12.30, pesawat take off.
12.35, pramugari mulai mengumumkan beberapa pengumuman. Me dan cang tidur sebentar. Bangun-bangun laper. Nyamil roti breadtalk, minum teh botol kotak. Me main game lagi. >
16.10 (waktu macau-lebih cepat 1 jam dari bangkok), pesawat mendarat di airport macau, yang terletak di Taipa Island. Airportnya kecil, tapi lokasinya unik. Di tepi laut china selatan (?), dengan latar belakang pegunungan. Landasan pesawatnya ramping, kiri dan kanannya langsung air, dan hanya selebar 1 pesawat, bahkan sepertinya sayap pesawat sudah melewati landasan.
16.20, keluar dari pesawat. Dingiiiiin. Suhunya mungkin 10 C.
16.25, masuk ke gedung airport, antri imigrasi. Seluruhnya penumpang air asia. Airportnya sepi. semua petunjuk tertulis dalam bahasa china, portugis, inggris. Proses imigrasi berlangsung cepat. Selesai dari imigrasi, tukar uang dari HKD ke pattaca. Hanya tukar sedikit, karena HKD juga bisa dipakai di macau, dan nilainya dianggap sama. Kemudian cari stand airport bus.
16.40, antri di stand airport bus. Tunggu bus no. AP1. yang antri hanya sedikit, sekitar 8 orang. 10 menit kemudian, bus nya datang. Bus kecil, seperti minibus. Semua masukkan uang MOP 3.3 ke kotak dekat supir. (kalau bawa tas yang besar dikenakan tambahan biaya lagi MOP 3.3). Bus berhenti di beberapa perhentian di Taipa Island, setelah itu melewati The New Macau-Taipa Bridge, yang menghubungkan Taipa dengan Macau Peninsula, dan sampailah di Macau Peninsula, yang merupakan pusat dari macau.
17.10, Setelah melewati avenida da praia, macau tower, dan hotel lisboa (hotel paling terkenal di macau), bus pun akhirnya sampai di Rua (=jalan) de Pequim, dan berhenti di seberang hotel Holiday Inn. Hotelnya berada tepat di tepi jalan. Façade depannya bergaya eropa. Masuk ke bagian dalamnya, di sisi kiri terdapat “casino” kecil. Di sisi kanan terdapat front office. Me dan cang langsung check in, dilayani oleh salah satu petugasnya (yang tanpa senyum dan tanpa kata “please”). Setelah check in, mampir sebentar di concierge yang letaknya bersisian dengan front office, dan ambil peta-peta macau. Sesampainya di kamar lantai 17, kesan : kamar kecil, jendela super kecil, dan terutama kondisi kamar mandinya yang agak agak memprihatinkan. langsung turun lagi ke front office dan minta ganti kamar. Kali ini dilayani oleh petugas yang berbeda, lebih ramah, dan diberi kamar di lantai 19, yang kondisinya lebih baik dari kamar sebelumnya : lebih besar, jendela lebih besar, tapi kamar mandi sepertinya tidak berbeda jauh. >
18.00, berbekal lonely planet dan peta macau, acara jalan-jalan pun dimulai. Tujuan pertama : largo do senado yang terletak di avenida de almeida ribeiro. Pakaian sudah disesuaikan. Me: kaos, kaos lengan panjang, jaket, syal, sarung tangan. Cang: kaos, cardigan leher bulu, jaket, syal, sarung tangan. Keluar dari hotel, berjalan ke arah kiri mendekati hotel lisboa. Foto-foto di depan hotel lisboa, masuk ke dalam lihat-lihat. Melanjutkan perjalanan lagi, menyusuri Avenida do Infante D’Henrique, yang di sisi kiri dan kanannya terdapat toko-toko dan mall, jalan lurus terus sampai di perempatan lampu merah. Avenida do Infante D’Henrique dan avenida de almeida Ribeiro dipisahkan oleh lampu merah tersebut. Sepanjang avenida de almeida Ribeiro juga terdapat toko-toko seperti bossini, esprit, Mc Donald's. Tak lama kemudian, sampailah di largo do senado yang terletak di sebelah kanan jalan. Largo do Senado (senado square): Lapangan yang terkenal akan pavingnya yang dari cobble stone berwarna hitam dan putih dan berbentuk gelombang. Di sekeliling lapangan terdapat gedung-gedung bergaya arsitektural eropa, yang beberapa diantaranya difungsikan komersial (diantaranya: Mc Donald's, Starbucks, Watson, Giordano, Bossini, Kevin and Samuel, Baleno, Body Shop). Lapangan dihias dengan tema natal. Pohon Natal besar di tengah-tengah lapangan, lengkap dengan lampu natal dan hiasannya, hiasan-hiasan natal yang digantung sepanjang jalan yang diapit gedung-gedung. Melihat pemandangan bagus, Me seperti biasa, sibuk ambil foto dan cang seperti biasa jadi “skala manusia-nya” yang setia. Sesi foto diselingi sebentar dengan acara makan di Mc D (burger ayam). Satu hal yang sempat buat me dan cang terkaget-kaget : Banyak terdengar bahasa jawa di sini. Sepertinya pembantu-pembantu asal Indonesia yang banyak bekerja di Hongkong, (mungkin) sedang liburan ke macau.
Selesai makan, walking tour dilanjutkan, dengan tujuan ruin of Church of St. Paul (terinspirasi foto Ruin of St.Paul di waktu malam, dengan latar depan pohon natal yang dihiasi lampu natal). Jalur mengikuti jalur walking tour lonely planet : Rua de Sao Domingos, Rua de Pedro Nolasco da Silva, belok kiri ke Calcada do Monte, yang ternyata medannya cukup berat – mendaki, sampai di atas ternyata tiba di Monte Forte. Melewati monte forte sampailah di tempat tujuan. Walaupun malam, ternyata masih banyak orang di sini. Dari Ruin of St. Paul, yang tersisa adalah façade depannya saja, dengan gaya arsitektural seperti gereja-gereja eropa. Taman depannya dihiasi dengan lampu-lampu warna-warni, Namun pohon natal yang diharapkan bisa jadi objek foto, tidak ada. Yang ada, neon sign yang dibentuk tokoh-tokoh alkitab dan domba. Meneruskan perjalanan dari sini, ternyata jalannya tembus ke Rua de Sao Domingos, yang letaknya langsung berhubungan dengan largo do senado.
20.45, jalan balik ke hotel. Mampir ke toko baju yang banyak jual baju dingin. Me beli 1 jaket bahan bulu-bulu pendek warna hitam (MOP 49), tang juga beli jaket bahan sama warna abu-abu kecoklatan (MOP 39) plus syal bahan flannel (MOP 9).
21.10, sampai di hotel. Mandi. Masak indomie. Lihat-lihat peta. Langsung tidur.
Senin, 09 Januari 2006
Keliling kota…. (Jalan kaki…. Jalan kaki…. Jalan kaki……)
07.30, bangun pagi dengan susah payah (rencana bangun jam 07.00). sikat gigi, cuci muka, minus mandi (dingiiiin). Kostum hari ini sama seperti kemarin hanya jaket yang baru beli semalam, langsung dipakai.
08.00, sarapan pagi di resto hotel. Menu sarapan : me : telur goreng + sosis, bihun goreng, bakpau, juice kiwi, teh hangat. tang : bakmi goreng, bihun goreng, bubur, juice kiwi, teh hangat. Dim sum yang udah kebayang bakal bertaburan (dari sebelum berangkat) ternyata gak ada. >
08.30, berangkat dari hotel untuk mulai walking tour (sumber: lonely planet dicampur dengan peta walking tour macau). Rute pertama: largo do senado dan sekitarnya. Dimulai dari largo do senado, dan gedung-gedung yang ada di sekitarnya: Post Office (sekalian beli perangko-macau terkenal akan koleksi perangkonya), Santa Casa da Misericordia (Holy House of Mercy), church of St. Dominic. Kemudian masuk ke Rua sao Domingos, belok kiri ke Rua da Palha, terus menuyusuri jalan sampai masuk ke rua da sao Paulo dan diujung jalan ini terdapat Company of Jesus Square, yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan bergaya eropa dan tepat di ujung axis jalan berdirilah Ruin of the church of St. Paul yang terkenal. Untuk sampai ke façadenya, harus menaiki tangga. Ruin ini letaknya bersisian langsung sebelah kiri dengan Na Tcha Temple (yang di dekatnya terdapat section of the old city walls) dan di sebelah kanan dengan Monte Forte (Mount Fortress) yang juga lokasi dari macau museum (terletak di bagian atas Monte Forte). Dari Monte Forte ini dapat terlihat pemandangan kota macau. >Dari sini, kembali ke Ruin of the Churh of St. Paul, dan belok ke Rua de S. Antonio, menyusuri jalan dan sampailah di Church of St. Anthony, dan jalan sedikit lagi sampai ke Camoes Garden. Dari sini berjalan balik menuju senado square.
Dari sini, mulai rute kedua: Penha Peninsula. Masuk ke Rua Dr. Soares (terletak di seberang largo do senado). Jalan lurus masuk ke Calcada Tronco Velho, di sisi kiri jalan ini terdapat Church of Sto. Agostinho dan di seberang gereja ini terdapat Dom Pedro V theater. Dari sini jalan lurus di Rua Central, kemudian Rua de Sao Laurenco, di sisi kanan jalan ini terdapat Church of Sao Lourenco. Dari gereja ini kemudian menyebrang jalan dan masuk ke Travessa Padre Narciso, terus berjalan sampai pertigaan, belok kanan masuklah ke jalan besar Avenida da praia grande. Di sebelah kiri jalan ini terdapat Lagos de Nam Van (Nam Van Lakes). Dari jalan ini dapat terlihat jelas macau tower. >Menyusuri jalan ini sampai masuk ke Rua da Praia do Bom Parto kemudian belok kanan masuk ke calcada do bom parto, sampai pertigaan belok kanan masuk ke Rua Boa Vista dan kemudian belok kiri ke Calcada da Penha. Menyusuri jalan ini, sampailah di Penha Hill, yang mana terdapat Capela de NostraSenora de Penha. (catatan: mulai dari calcada do bom parto sampai ke Penha Hill, medannya berat – jalan mendaki). Dari penha hill ini dapat terlihat pemandangan kota macau dan tempat yang stragtegis untuk mengambil foto macau tower). Dari sini kemudian menyusuri Estrada de D. Joao Paulino (jalannya belok-belok) sampai ke Santa Sancha (taman kecil), dari sini kemudian jalan turun masuk ke avenida da republica. (sebelum sampai ke sini, sempat keliling-keliling bukit karena salah baca peta – lumayan buat bakar kalori). Menyusuri Avenida da Republica yang bersisian langsung dengan Sai Van Lakes sampai masuk ujung, kemudian belok kanan masuk ke Rua do Sao Tiago da Barra, jalan terus sampai tibalah di Barra Square tempat A Ma Temple dan Macau Maritime museum berada. Tempat ini adalah titik terakhir dari rute 2.
14.00, makan siang di A Lorcha Restaurant (ikuti saran lonely planet), yang letaknya dekat dengan A ma Temple. Menu hari ini : coba makanan macau yang terkenal enak. Pembuka : roti plus butter (gratis), Caldo Verde (sup kentang - enak banget); makanan utama : Chicken Rice a la A lorcha (satu mangkok besar, ayam dan nasi dicampur, warnanya coklat, rasanya unik, agak asam-asam), ikan panggang plus kentang (seperti ikan panggang biasanya), teh hangat. Sambil makan, sekalian transfer foto ke laptop.
15.00, mulai rute ketiga : Taipa Island. Dari seberang A lorcha naik bus no. 34 (MOP 3.3) jurusan Taipa Island. Bus putar-putar sebentar di macau peninsula, kemudian nyebrang jembatan, masuk ke Taipa Island. memasuki Taipa Island, mulai pasang mata, untuk lihat tempat turun nanti : Rua do Correia da Silva. Bus berhenti di pertengahan jalan ini. Dari sini, jalan lurus ke depan kemudian belok kiri sedikit sampai di Tin Hau Temple. Kemudian kembali ke Rua do Correia da Silva, dan jalan-jalan menyusuri gang-gang di sekitar area ini. Setelah itu masuk ke Calcada do Quartel, mengikuti jalan ini sampai ke Avenida Carlos da Maia dan di sisi kanan jalan ini terdapat Our Lady of Carmel. Dari sini, turun masuk ke Taipa Museum. kemudian jalan balik menuju ke bus stop. Tunggu bus no. 15 ke arah coloane.
16.00, rute keempat : Coloane Island. Bus berangkat dari Taipa melewati cotai causeway dan sampailah di Coloane Island. sama seperti di Taipa, kali ini juga langsung pasang mata setiba di coloane. Cari bus stop di Largo Presidante Antonio Ramalho Eanes. Dari bus stop ini berjalan ke arah Rua Das Gaivotas kemudian belok kiri masuk ke avenida 5 de Outubro yang bersisian langsung dengan Lai Chi Wan (danau / laut ?), menyusuri jalan ini sampai ketemu dengan Chapel of St. Francis Xavier yang terletak di sisi kiri jalan. Dari sini kemudian masuk ke jalan kecil di depan gereja (arah kanan kalau menghadap ke gereja) jalan terus sampai ketemu travessado pagode, yang mana terdapat Kun Iam Temple. Dari sini, kemudian jalan balik dengan rute yang sama sampai ke bus stop. Tunggu bus no. 21 A ke arah macau peninsula.
17.30, bus berhenti di A Ma Temple. Dari sini jalan kaki ke Macau Tower (yang kelihatannya sudah dekat, tapi waktu dijalani ternyata cape banget). Kebayangnya Macau Tower ini ada mall nya, jadi bisa sekalian makan malam. Ternyata info yang didapat agak-agak tidak sesuai harapan. Di dalamnya hanya ada 2 – 3 café kecil, dan 2 toko yang menjual pakaian branded, plus barang-barang seperti di minimarket. Karena tidak ada apa-apa lagi yang bisa dilihat, perjalanan yang digolongkan agak sia-sia ini, me dan cang segera cari bus untuk ke Senado Square.
18.15, sampai di Largo do Senado. Makan malam dulu di Mc D (kali ini Mc D yang di seberang Senado). Setelah itu, ke squarenya kembali. Sampai di sana, ternyata pohon natal dan hiasan-hiasan natal sudah mulai dilepas (untunglah semalam udah sempat lihat dan foto-foto). Kali ini, kegiatan utamanya adalah window shopping. Masuk dari satu toko ke toko yang lain. (niatnya belanja, tapi gak ketemu yang cocok).
20.45, sampai kembali di hotel. Mandi, ngemil indomie lagi (cuaca dingin ternyata buat cepet laper), mulai packing (biar besok gak keburu-buru). Langsung tidur.
Selasa, 10 Januari 2006
Lost in Tanslation in Zhuhai……
07.30, bangun pagi. Sikat gigi, cuci muka, packing.
08.00, sarapan pagi. Menu: me: telur, sosis, bakpao, juice kiwi, tang : bubur, kentang, juice kiwi. Lalu check out, ransel 1 dititip di concierge.
08.30, Setelah dapat petunjuk dari concierge mengenai bus yang arah ke zhuhai, pergi ke bus stop seberang hotel. Tunggu bus no…. (lupa). Turun di portas de cerco (perbatasan macau – china). Masuk ke gedungnya, lewat imigrasi, keluar (ikut arus orang-orang). Masuk ke imigrasi China, urus visa (HKD 150/orang – untuk visa 3 hari). Sampailah ke China (zhuhai). Imigrasinya terletak di Gongbei Port. Bagian basementnya berupa mall dengan kios-kios kecil. Dari sini menurut info yang didapat dari internet, cari sightseeing bus yang akan melewati tempat-tempat wisata di zhuhai. Namun, berhubung semua petunjuk dalam bahasa china, dan semua orang tidak bisa berbahasa inggris sama sekali, untuk cari tahu mengenai bus ini, susah sekali. Untunglah, sekitar pk. 10.00 information buka, dan petugasnya bisa berbahasa inggris sedikit. Dari info yang diberikan, untuk naik bus harus turun 1 lantai lagi. Sebelum turun, cari money changer dulu, tapi gak ketemu-ketemu. Akhirnya ada ide: beli minum dulu, bayar pakai HKD, dan berharap mau diterima dan kembaliannya dalam yuan. Untunglah lagi, rencana berjalan mulus.
Dengan yuan di tangan, mulai turun ke bawah untuk cari bus. Sampai di bawah bingung lagi, tidak ada petunjuk yang bisa dimengerti sedikit pun. Namun terlihat ada jalur bus dan orang-orang yang menunggu. Me dan cang pun pergi ke jalur tersebut dan coba baca petunjuk-petunjuk yang ada. Semuanya (lagi-lagi) dalam bahasa china. Namun setelah baca beberapa kali, ada tulisan kecil-kecil dalam huruf latin, mengenai sightseeing bus. Setelah beberapa menit menunggu (harap-harap cemas juga), busnya pun datang. Bus tingkat.
Bus sightseeing ini ada 2 line, east line dan west line. Yang lewat gongbei port adalah east line. Rencanaya me dan cang akan turun di zhuhai fishing girl (symbol kota zhuhai) dan pearl land. Setelah masukkan uang ke kotak dekat supir (Y 2), naik ke tempat duduk di tingkat 2. karena pearl land letaknya lebih jauh dari fishing girl, rencananya akan ke pearl land dulu dan jalan balik baru turun di fishing girl. Setiap berhenti di halte, akan ada pengumuman nama haltenya. Tapi gak ngerti sama sekali yang diucapkan. Setelah bus melewati fishing girl, terlihat ada gerbang yang unik. Karena tidak tahu pearl land seperti apa, me dan cang berasumsi, mungkin ini pearl land. Turunlah me dan cang di sini. Sampai di lokasi, bingung lagi, gak ada petunjuk sama sekali, akhirnya foto-foto aja, dan jalan balik ke fishing girl (kasus macau tower terulang lagi – dari jauh udah kelihatan, waktu dijalani ternyata jauuuuh sekali). Jalan balik ke arah fishing girl – nama jalannya : lover’s road- berbatasan dengan Xianglu Bay, jadi sepanjang jalan ada pemandangan yang bisa dinikmati. Sampai di fishing girl, foto-foto sebentar. Sebelumnya sempat ke tourist information yang letaknya di seberang dan sempat ambil peta zhuhai. Dari sini kemudian tunggu sightseeing bus – arah balik. Rencananya turun di zhuhai hotel dan ganti line bus. Namun, setelah melewati gongbei port lagi, tidak kelihatan ada tanda-tanda zhuhai hotel, dan semua penumpang sudah turun. Akhirnya tanya ke supir. Tapi gak ngerti. Akhirnya tunjuk gambar tempat wisata yang ada di peta. Supirnya mengangguk-angguk (sepertinya ngerti). Tak lama, supirnya ngobrol di HP dan HP nya dikasihin ke me dan cang, disuruh ngomong sama orang di HP. Ternyata, orang di HP bisa bahasa inggris, dan setelah ngomong mau turun di mana, balikkan lagi HP ke supir dan orang di HP kasih tau supirnya. (gak nyangka, ternyata baik banget supirnya). Setelah putar-putar, supirnya berhenti tempat makan para supir bus sightseeing. Dan ngomong dengan supir lain (yang bus nya arah west line) tentang tujuan me dan tang. Me dan cang pun ganti bus. Sempat tunggu sebentar (mungkin supirnya selesaiin makan dulu). Tak lama, busnya mulai jalan. Karena berasa udah lama banget di bus, dan kebetulan lihat ada gedung bagus – gaya arsitektural china, dan di seberangnya ada mall (buat makan siang) me dan tang pun turun. Sama seperti kasus “pearl land”, gedung ini pun gak jelas gedung apa. Tapi bagus buat obje foto. Setelah foto-foto, kemudian nyebrang ke mall. Makan siang di KFC. Dari sini kemudian naik bus, balik ke daerah gongbei. Daerah ini banyak toko-toko (jualanan macam-macam).
15.00, balik ke macau. Proses sama seperti dari macau – zhuhai.
16.30, dari portas de cerco naik bus no. 3, berhenti di largo do senado (lagi). Jalan-jalan, foto-foto (hari ini langitnya mulai biru dan sedikit lebih hangat).
17.30, kembali ke hotel, ambil barang. Tanya info ke concierge mengenai bus yang ke airport. AP 1 infonya.
17.45, bus AP 1 datang. Keliling-keliling, kena macet, sampai-sampai di….. portas de cerco (??!!?). Tanya ke supirnya, gak jelas. Akhirnya naik bus itu lagi (kali ini benar ke arah airport), tapi karena takut jalurnya putar-putar, akhirnya begitu melihat lisboa hotel, langsung turun. Cari taxi.
19.45, setelah 15 menit perjalanan dengan taxi, sampai juga di airport. Check in, makan malam di resto airport (ala macau: nasi goreng ikan asin, nasi ayam kari).
20.45, pesawat take off
10.25 (waktu Bangkok), pesawat mendarat di Bangkok international airport.
Catatan :
Tulisan WC di macau, selalu bersama dengan gambar doggie. Entah kenapa. Belum sempat cari info.

Read & See More…

Friday, December 23, 2005

L’Hiver romantique au Nord du Viêtnam

Hanoi... tempat yang sudah sejak lama ingin dikunjungi. Termotivasi oleh Halong Bay-dengan limestonenya yang bertebaran, pho-yang ternyata enak banget dimakan dengan cakwe goreng, dan air asia-yang baru aja buka jalur Bangkok-Hanoi.
Sabtu, 17 Desember 2005
Pagi-pagi berangkat ke airport, pesawat jadwal berangkat pk. 10.20. Tetapi karena pesawat belum datang-datang, kami dapat tambahan waktu duduk-duduk di aiport 45 menit. Dan setelah masuk pesawat, dapat tambahan waktu lagi untuk lihat-lihat landas pacu 15 menit, karena pesawat mesti tunggu giliran terbang (di depan pesawat kami, ada sekitar 4 pesawat yang juga sedang tunggu giliran). Setelah take off, pramugari mulai “jualan” makanan/minuman. Walaupun pagi sudah sarapan, tetapi melihat “jualanan” ini, alhasil hari ini ada sarapan kedua. Beli biscuit isi tuna, mie instant rasa tom yam, dan oishi green tea. Selama penerbangan yang memakan waktu sekitar 1 jam 40 menit ini, kami mengisi waktu dengan lihat-lihat pemandangan dari pesawat. Karena langit cerah-tidak berawan, gunung-gunung kelihatan jelas, biru.

Sekitar pk. 13.10 (waktu Hanoi, lebih cepat 1 jam dari Bangkok), pesawat mendarat di bandara Noi Bai. Kemudian cari jemputan dari Hanoi Guest House. Perjalanan dari bandara ke guest house sekitar 45 menit. Sesampai di guest house, check in, dapat kamar di lantai 4. Setelah beres-beres dan taruh barang, ngobrol dengan pemilik guest house tentang rencana jalan-jalan selama di Hanoi. Hasilnya acara jalan-jalan selama di hanoi langsung tersusun: hari kedua (besok) city tour, hari ketiga perfume pagoda, hari keempat halong bay (untuk halong bay, sudah dibooking lewat internet dari sebelum berangkat), hari kelima balik Bangkok. Setelah tukar uang dari USD ke Dong dengan pemilik guest house (lupa tukar di airport), dan dapat peta Hanoi (juga dari guset house), langsung berangkat ke tujuan utama : Dong Xuan market. Keluar dari guest house, langsung kedinginan (walaupun udah pakai jaket). Sebelum berangkat, sebenernya udah survey temperature dulu, 8 C – 15 C, dan juga udah sedia perlengkapan baju dingin (jaket), tetapi tetap aja gak kebayang bakal sedingin itu. Maklumlah, ini adalah pengalaman pertama jalan-jalan ke tempat yang bener-bener ada musim dinginnya.

Walapun di peta, jalan ke dong xuan market kelihatannya mudah, tapi waktu dijalani ternyata suah juga. Sempet nyasar berkali-kali, coba tanya orang, tapi dijelasin arahnya dalam bahasa Vietnam. Setelah putar-putar 20 menit, dan sibuk menghindari motor yang banyaaak banget di jalan (karena jalur pedestrian dijajah oleh parkir motor dan jualan, pejalan kaki terpaksa jalan di jalur kendaraan), akhirnya sampai juga. Pasarnya terletak dalam gedung (2 lantai). Banyak jual pakaian, sepatu, dan ada sedikit bagian yang menjual souvenir (yang setelah keliling beberapa kali baru ketemu). Di sini beli miniatur topi caping khas Vietnam (3000d), 1 pasang patung kecil bentuk orang pakai baju khas Vietnam warna biru dari bahan … (??), 2 buah magnet (total 35.000d), 1 pasang patung kecil bentuk orang pakai baju khas Vietnam warna orange dari bahan kayu (10.000d).

Dari sini coba jalan-jalan di sekitar area ini. Dong Xuan market ini terletak di Hanoi’s Old Quarter (dengan sejarah lebih dari 1000 tahun), yang merupakan salah satu tempat yang unik dan wajib kunjung di Vietnam. Jalan-jalan di area ini diberi nama produk yang dijual di jalan tersebut (zaman dulu ketentuan ini berlaku, tapi sekarang ini, nama jalan kadang tidak mengindikasikan produk yang dijual di jalan tersebut). Sebagai contoh, nama jalan tempat guest house kami nginap 14 Bat Su Street artinya Chinese bowl.

Dari acara jalan-jalan malam ini, sampai juga di Hoan kiem Lake-danau yang tidak terlalu besar disekelilingnya banyak terdapat pohon dan tempat duduk, dan di bagian utaranya terdapat Ngoc Son Temple. Untuk masuk ke dalamnya harus melewati The Huc Bridge. Karena sudah malam, templenya tutup dan sekitar danau juga tidak terlalu banyak orang. Dari sini, kemudian jalan-jalan di jalan P Dinh Liet dan sekitar jalan P Cau Go. Sepanjang jalan banyak toko-toko souvenir dan makanan. Satu-satunya (sepanjang pengamatan) supermarket di area ini, hanya ada di jalan P Cau Go. Setelah makan malam di salah satu tempat makan di P Dinh Liet, kami kemudian jalan balik ke arah guest house. Sepanjang jalan, terlihat orang-orang mulai buka tenda, dan sibuk menata barang dagangan. Ternyata, sepanjang jalan Pho Dong Xuan (Jalan depan dong xuan market) lurus sampai dengan jalan Hang Dao (jalan sampai di Hoan Kiem lake) ada night market hari sabtu – minggu. Alhasil, sambil jalan balik, sibuk lihat-lihat kali aja ada benda menarik yang bisa dibeli.

Sampai di hotel sekitar pk. 09 malam. Langsung mandi, lihat acara tv sebentar, tidur.

Minggu, 18 Desember 2005
City tour
Bangun pagi (+/- pk. 07.00), sarapan pho. Acara hari ini : city tour (ambil paket dari tour travel: USD 14). Dijemput sekitar pk. 08.30. Naik van, satu van penuh semua. Banyakan turis eropa/amerika, tapi ada sepasang oma/opa dari Malaysia (jadi temen ngobrol selama acara jalan-jalan ini). Tempat-tempat yang dikunjungi:
Ho Chi Minh mauseoleum Complex, begitu sampai di sini, sudah banyaaaaak banget orang yang terlihat rapi baris mengantri. Setelah menitipkan camera di tour guide dan tas di van (karena masuk ke sini, tidak boleh bawa apapun), langsung ikut antrian. Antrian walaupun panjang, tapi cepat jalannya. Dan untungnya karena musim dingin, jadi walaupun antrinya di tempat terbuka, tidak kepanasan. Sepanjang antrian terdapat petugas-petugas yang mengawasi dan juga memantau serta memastikan tidak ada barang yang dibawa masuk. Bagian pertama yang dimasuki adalah mausoleum. Memasuki area ini, pengunjung harus sopan, tidak boleh bersuara, tidak boleh pakai topi, tangan tidak boleh dimasukkan ke saku. Selama proses ini, tidak ada pengunjung yang diam, semuanya berjalan terus. Selepas dari bagian ini, kemudian lihat presidential palace (selepas dari mausoleum, sudah didampingi lagi oleh tour guide dan sudah boleh pakai camera), bangunan bergaya colonial yang dicat seluruhya berwarna kuning. Dari sini, terus ikut arus antrian melihat Nha San bac Ho (Ho Chi Minh’s Stilt House), rumah tempat Ho Chi Minh sempat tinggal beberapa tahun, dengan gaya arsitektural Vietnam, dan dipreservasi sesuai dengan aslinya. Dari sini kemudian jalan menuju HO Chi Minh Museum (kali ini sudah tidak pakai antrian). Dalam perjalanan ke museum, melewati one pillar pagoda, pagoda yang terkenal di Hanoi. Namun tidak masuk, karena sudah tutup (sudah lewat dari pk. 11).
Tran Quoc Pagoda, salah satu pagoda tertua di Vietnam. Terletak di jalan Thanh Nien, yang membagi Ho Tay (west lake) dan Truc bach Lake. Dari sini kemudian makan siang.
Temple of Literature, terdiri atas 5 courtyard. Antarcourtyard dibatasi dengan gerbang, yang salah satunya adalah symbol Hanoi. Di dalam temple ini terdapat batu-batu dengan tulisan yang dipahat di atas batu tersebut, dan terletak di atas kura-kura.
Dari sini acara tour selesai. Sebagian ada yang turun di Hoan Kiem Lake (termasuk me dan cang), dan ada juga yang diantar kembali ke hotel. Me dan Cang masuk ke Ngoc Son Temple.
Kemudian jalan-jalan sekitar Hoan Kiem Lake, ngemil di café yang ada di pinggir danau, duduk-duduk. Kemudian makan malam di daerah P Dinh Liet lagi. Kali ini makan di Ocean Café. Kemudian jalan di night marketnya. Kali ini beli tea set keramik (25.000d)-bagus dan murah. Me beli sweater turtle neck (60.000d), tebel banget bahannya dan topi kuncung warna hitam (25.000d). Cang beli sepatu warna coklat (50.000d).

Senin, 19 Desember 2005
Hiking di Perfume Pagoda
Bangun pagi, dan sama seperti kemaren (dan juga hari-hari selanjutnya) sarapan pho. Kali ini makannya langsung di tempat jualan pho yang ada di depan guest house (kemaren belum tahu kalau pho nya dibeliin dari tukan jualan di depan) biar bisa pake sambel dan cakue dengan puas. Ke perfume pagoda ini juga ambil paket tour (USD 17) , dijemput sekitar pk. 08.30, kemudian jemput 1 orang lagi (german). Ya, kali ini tournya semi private, peserta hanya 3 orang. Perjalanan dari Hanoi sampai ke My Duc (nama kota tempat perfume pagoda berada) sekitar 1 jam. Van berhenti sampai dekat tempat perahu. Dari sini perjalanan hanya bisa dilakukan dengan perahu (perahu kecil dari aluminium (?)), yang didayung oleh 1 orang (dan biasanya wanita). Sepanjang perjalanan, terlihat pemandangan tebing-tebing limestone. Perjalanan sampai ke kaki gunung tempat perfume pagoda berada, sekitar 1 jam.
Dari sini kemudian, jalan kaki sampai ke komplek pagodanya (tidak masuk ke dalam, perjalanan pulang baru masuk). Medan perjalanan sampai sini tidak terlalu sulit, sudah dibuat pijakan tangganya. Kemudian jalan terus, mendaki, dengan medan yang makin lama makin sulit. Sempat berhenti berkali-kali. Akhirnya setelah berjuang selama tidak kurang dari 2.5 jam sampai juga di grotto yang dituju. Untuk masuk ke grotto ini, harus menuruni tangga yang lumayan banyak (tapi karena sudah dibuatkan pijakannya dan (terutama) karena arahnya turun, perjalanan ini tidak terlalu memerlukan motivasi super kuat untuk menjalaninya). Di dalam grotto terdapat patung-patung Buddha. Dari sini kemudian berjalan kembali mengikuti jalan yang sama sampai ke tempat pagoda yang dilewati pada perjalanan pergi tadi. Sebelum masuk, makan siang dulu di tempat makan dekat komplek pagoda ini. Selesai makan, kemudian masuk ke pagoda yang dibangun di atas Huong Tich Mountain (Mountain of Frangance Trace) ini.

Selesai acara ini, kembali ke Hanoi. Sampai di Hanoi sekitar pk. 07.00 malam. Selama perjalanan balik, semuanya tidur. Me dan cang minta didrop di dekat Hoan Kiem Lake lagi. Kali ini pergi ke Mall dekat Hoan Kiem Lake, rencananya mau makan malam di food court. Tapi ternyata di mall nya gak ada food court. Akhirnya pergi ke jalan P Dinh Liet, makan di resto dekat Ocean Café. Menunya ada masakan ala Malaysia. Pesen kuetiaw penang dan nasi goreng vegetarian. Selesai makan, jalan-jalan di seputar old quarter lagi. Kemudian pulang. transfer foto dulu ke thumb drive. Langsung tidur. Nyenyaaak sekali.

Selasa, 20 Desember 2005
Cruise di Halong Bay
Pagi-pagi dijemput tour travel. Kali ini peserta tour lumayan banyak. Sepasang dari German, sepasang dari Australia, 3 orang dari Irlandia. Dari Hanoi langsung pergi ke Halong City naik van, perjalanan sekitar 3 jam. Van berhenti sampai di tempat kapal-kapal berada. Kemudian langsung naik kapal. Kapalnya dari kayu, terdiri atas 2 lantai. Bagian bawah, sekelilingnya ditutup dengan jendela kaca, dan terdapat kursi-kursi dan meja. Bagian atas, terbuka sama sekali, ada beberapa kursi plastik.
Tujuan pertama “pelayaran” ini adalah grotto Hang Dau Go, untuk masuk kedalamnya, harus menaiki tangga. Bagian dalam dari goa ini dihiasi dengan lampu warna warni. Dari sini kemudian pergi ke goa didekatnya, Hang Thien Cung, yang juga penuh dengan stalaktik dan stalakmit. Selesai dari goa kemudian kembali ke kapal untuk makan siang. Menunya: seafood. Selama makan siang ini, kapal berhenti di lokasi yang hampir seluruhnya dikelilingi dengan limestone. Selesai makan siang, kembali lagi ke lantai 2, untuk duduk-duduk, foto-foto. Walaupun pemandangan dari lantai 2 ini bagus banget, tapi perlu tahan dingin. Selain udaranya sudah dingin, ditambah dengan adanya angin, makin berasa banget dinginnya sampai menusuk tulang. Setelah beberapa saat di “atas”, akhirnya kami memutuskan untuk duduk di lantai 1 aja.

Kapal kemudian tiba kembali ke tempat semula. Naik van lagi, balik ke Hanoi. Masing-masing diantar sampai hotel/guest house, sampai hotel sekitar pk. 07.30 malam.

Dari sini, buru-buru pergi ke daerah Hoan Kiem Lake, mau nonton water puppet di Municipal Water Puppet Theatre. Gedung pertunjukannya ada di seberang Hoan Kiem Lake. Beli tiket dulu (20.000d), terus sambil tunggu jam mainnya, makan malam dulu. Kali ini makan di tempat makan yang pertama kali makan (me suka banget sama masakannya soalnya). Sehabis makan, balik ke gedung theatre. Langsung masuk, dapat tempat duduk paling belakang. Sesuai dengan namanya, water puppet ini adalah pertunjukan boneka seperti wayang golek, dengan setting panggung dari air. Pengisi suara dalam bahasa Vietnam, walaupun gak ngerti bahasanya, tapi lihat atraksi dan keterangan di brosurnya, bisa ngerti juga. adegan-adegannya sangat menghibur untuk ditonton, boneka-bonekanya macam-macam, ada yang orang, binatang, dan gerakan-gerakannya sangat mulus. (gak nyesel deh udah dibela-belain nonton). Selesai nonton, langsung pulang, packing, tidur.

Rabu, 21 Desember 2005
Naik Cyclo
Hari ini hari terakhir di Hanoi. Pagi-pagi setelah selesai sarapan dan packing, pergi ke dong xuan market (beli topi kuncung). Dari sini kemudian coba naik cyclo (per jam USD 3) ke area mausoleum, dan masuk ke one pillar pagoda (karena waktu city tour belum sempat). Dari sini kemudian balik langsung ke guest house (udah waktunya ke airport). Naik taxi airport yang dibooking oleh guest house (USD 10). Sampai di airport, langsung check in, bayar airport tax (USD 14), makan siang. Pesawat on time, take off pk. 12.50.

Catatan:
- pada saat me dan cang ke perfume pagoda, terlihat sedang ada pembangunan cable car.
- Karena kasus flu burung, makanan di sana tidak ada yang pakai ayam.
- kalau lagi lihat-lihat barang di toko dan tidak jadi beli, perlu siapin alasan. Karena penjualnya akan tanya kenapa gak jadi beli. Kalau gak yakin beli, lebih baik jangan tanya harga, karena akan “dipaksa” terus untuk beli.
- tips untuk nawar: habis tanya harga (belum nawar), pura-pura tinggalin. Karena harga pasti akan turun sendiri.
- di Hanoi, ternyata ada ciputra juga. Dalam perjalanan dari/ke airport ada komplek perumahan dengan gerbang sama seperti citra grand.

Read & See More…

Monday, October 03, 2005

Dhaka, Bangladesh : September 2005


Am just back from my business trip to Dhaka, Bangladesh. It was for our quarterly business review and planning for the Asia Whitespace group. I spent 3 days and 2 nights in Dhaka. The country and the city are so poor. They have the highest density on the planet. People squeeze to each other. Beggars are normal sight in Dhaka. People commute by taking buses, taxis, three-wheelers or rickshaws.

The men wear longyi [spelled : loong-gee], similar to Burmese longyi or Malay/Indonesian sarong. Women wear saris. Even though Bangladesh population is mainly muslim, I did not see so much of muslim wear amongst the women.

On the first Day after my Thai Airways landing, we went straight to the the upscale Sheraton Dhaka. The value for money was nothing compared to Hilton Colombo, even worse compared to Intercontinental Phnom Penh which offers terrific service with a much lower price. Had a nice meal for lunch, then proceeded immediately to one of the biggest markets in Dhaka to see laundry execution. I take some pictures of rickshaw and the market situation post office hour.
On the second Day, it was nothing but whole day meeting and meeting. Lunch was great. Indian food, but not so Indian :)

On the third Day, I and my collegue (MSL) who is based in Colombo were back to our base. He travelled via Bangkok so he joined me in the same Thai flight. The airport was splendid, it was designed by a famous architect Louis Kahn.

Read & See More…

Sunday, July 10, 2005

Hong Kong : Live it Love it !

Together with Cang's extended family (mom, dad, sisters, niece, nephew), we took this irrresistable Hong Kong tour package, priced at net 8,693 Baht. The package included round trip air tickets, 2 nights hotel stay, half day city tour, and airport transfer. Since we travelled in group, we got even more discounts. Hence, it is always worth to bargain when buying packages in Bangkok, when you are in group.

July 7, 2005
We left from Bangkok at 13.45 by Emirates Airways. After 2 hours flight, we arrived at the tremendously huge Hong Kong International Airport in Lantau Island. It was already almost dark when we arrived due to 2 hours time difference. We went to the tour counter to get our pick-up, but prior to that, the staffs tried to sell us many tour packages which eventually we declined to participate as we believed in self voyage rather than organized ones. The pick up took about 30 minutes passing a nice bridge connecting Lantau to Tsing Yi Island to reach our hotel, Rambler Garden Hotel, a new hotel plus appartment complex, located in naval port area in Tsing Yi Island. The staff was eventually able to speak Malay, hence we communicated to her in English mixed with Malay. The hotel room was extremely small, though the design was modern and chic.

In the evening, we took minibus to Tsing Yi MTR station heading to Kowloon District. Here we proceeded to Tung Choi Street Market (Ladies' Market) near Mongkok MTR station for its shopping streets and night bazaar. Like most night bazaar we encountered in other countries, this one sold mostly souvenirs and clothings. There were various kinds of shops around Ladies' Market: electronics, fashion, restaurant, etc. We had dinner at KFC and had some window shopping around. Back to hotel, we took taxi as it rained outside.

July 8, 2005
We were picked up at about 8.00 for our half day city tour. It took almost 1.5 hours to pick up other participants. Our guide's name was Patrick, spoke fluent English with Cantonese accent, was quite well informed about touristic sites, but did not do a good job in time management. The city tour started with Victoria Peak which is located in Hong Kong Island. The bus climbed half way of the peak, and stopped at one viewing point letting us taking pictures.

After Victoria Peak, we headed for Repulse Bay Waterfront, the only "nice" and most popular beach for Hong Kongers to have their recreation. In Repulse Bay, there is a nice chinese shrine dedicate to Kwun Yam Goddess.
Then, we went to Aberdeen Fishing Village, popular for the sampan cruise. We decided not to take the sampan as some of our members were afraid of getting sea sick. The view was spectacular with all the sampans dotting the waterfront.
Then, the tour took us to a jewelry factory/aterlier and a factory outlet whose prices were surprisingly more expensive than in other places. The tour operator must have got some commission for bringing us to these ateliers and shops. We decided to get out immediately from the factory outlet and bought our own lunch from the nearby McDonalds and had it in the bus while waiting for the others finishing their shopping time.

Tour ended with dropping of everybody in Tsim Sha Tsui, most popular shopping area in Hong Kong. We wandered around the area, bought a couple of clothings on sale in Giordano shops. We also strolled along the Tsim Sha Tsui promenade, heading to Avenue of the Stars. It's like the beverly hills of Hong Kong, where you can find hand prints of famous Hong Kong actors and actreeses dotting the walkway. We passed by Hong Kong Museum of Art and went straight to see the famous clock tower. Along the way we witnessed an extremely nice view of Hong Kong skylines with its hilly background.
We took the ferry from nearby ferry terminal to cross the straits to Hong Kong Island. In Hong Kong Island, we took some pictures in front of the St. John's Cathedral, and then took the famous but cheap Hong Kong tram to Western Market. We had our dinner at a nice Cantonese Restaurant in Western Market area.
We took ferry back to Avenue of the Stars in Tsim Sha Tsui to see the famous Simphony of Lights which is performed every day. Since it was weekday, the lights was not as spectacular as it would be, if it were weekend. Our evening continued to Nathan Road, still in Tsim Sha Tsui area. We wanted to buy a digital camera, but ended up being bullied by the stores. Be careful ! The stores' tactic is to give you whatever price you want to buy, but they will eventually say they are out of stock of the item you look for, and proposed other items instead. We took taxi back to hotel.

July 9, 2005
We started early in the morning for our Lantau Island trip. It was not part of the tour package, instead we organized it ourselves. We took a long ride of MTR till Tung Chung Station in Lantau Island, passing the not-yet-open Disneyland. From the MTR station, we continued with bus ride uphill to Ngong Ping Plateau where one can find the largest sitting Buddha statue in the world (Tien Tan statue).

There was also a Poh Lin monastery and a vegetarian restaurant. Admission fee included one lunch set at the vegetarian restaurant. We climbed uphill 260 stair steps to the statue. On top, we could look through beautiful scenery of Lantau bay dotted with several hilly islets. We went back to the hotel in the afternoon taking bus and MTR again.
Our tour operator picked us up at the hotel for the airport. Our plane departed back to Bangkok at 22.30.

Read & See More…

Tuesday, July 05, 2005

Cruise to Bang Pa In Summer Palace

3 Juli 2005...
Cang dan Me, dan juga keluarga Cang yang lagi datang berkunjung, ikut cruise ke Bang Pa In Summer palace yang diselengarakan oleh Chao Phraya Express Boat. Kapal berangkat dari Sathorn Pier, dan berhenti sekali di Maharaj Pier untuk angkut penumpang lainnya(Selain dari Sathorn Pier, cruise ini juga bisa diikuti dari Maharaj Pier).

Sepanjang perjalanan menyusuri sungai Chao Phraya, tour guide berbahasa inggris sibuk menjelaskan tempat-tempat yang dilewati: Wat Arun, Grand Palace, Rama IX Bridge, dan lainnya.

Kapal berhenti di tempat tujuan pertama: Bang Sai Royal Folk Arts & craft Centre. Craft centre ini bernaung di bawah Queen Sirikit's Promotion & Supplementary Occupations & Related Techniques Foundation. Kompleks seluas 115 hectare ini terdiri atas beberapa bangunan. Bangunan utamanya berisikan display produk-produk kerajinan.

Di komplek ini pengunjung juga dapat melihat proses pembuatan kerajinan tersebut. Untuk mengelilingi komplek ini disediakan tram. Karena waktu yang diberikan cukup lama, kami semua sempat makan siang di restaurant yang terletak di pinggir danau.


Dari sini, kapal kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Bang Pa In Palace. Untuk sampai ke dermaga di Bang Pa In, kapal harus berjuang melewati eceng gondok yang menutupi hampir seluruh permukaan air sungai. Di sini kami juga diberikan waktu bebas untuk berkeliling. Bang Pa In ini adalah istana musim panas. Untuk berkeliling kompleks ini selain jalan kaki, juga bisa menyewa "mobil golf" (harga THB 200/jam). Kompleks ini dibagi atas 2 bagian, Inner Palace-yang digunakan untuk tempat tinggal raja dan keluarga kerajaan dan Outer Palace-yang digunakan untuk keperluan yang berhubungan dengan publik/ceremonial.
Bangunan-bangunan yang terdapat di Outer Palace diantaranya adalah:
Phra Thinang Aisawan Thiphta-art, pavilion yang dibangun di atas danau.
Phra Thinang Warophat Phiman, bangunan bergaya neo classic yang dibangun oleh raja chulalongkorn untuk tempat tinggalnya dan throne hall.

Sedangkan bangunan yang terdapat di inner palace, diantaranya:
Phra Thinang Uthayan Phumisathian, bangunan bergaya eropa yang dibangun dari kayu. Bangunan yang ada sekarang ini adalah bangunan baru, karena bangunan lamanya terbakar.
Ho Withun Thasana, menara berbentuk bulat dengan motif garis kuning merah. dibangun oleh Raja Chulalongkorn.
Phra Thinang Wehart Chamrun, Royal Residence dengan gaya arsitektural china.
Bangunan-bangunan yang ada di kompleks ini sebagian besar dibangun oleh Raja Chulalongkorn.

Di seberang Bang Pa In Palace ini, terdapat Wat Niwet Thamaprawat dengan bentuknya yang unik. Tidak seperti umumnya wat yang lain, wat ini berbentuk seperti gereja-gereja gothic. Untuk menyeberang sungai yang memisahkan Bang Pa In dan Wat Niwet Thamaprawat tersebut, disedikan alat tranportasi berupa "kereta gantung".

Selepas dari Bang Pa In, cruise balik menuju Bangkok, dengan berhenti sekali di salah satu temple yang ada di pinggir sungai. Sore hari, kami pun tiba kembali di Sathorn Pier.


Note: Harga Cruise THB 390, belum termasuk tiket masuk ke Bang Sai Royal Folk Arts & Craft Centre dan Bang Pa In Summer Palace.


Read & See More…

Tuesday, May 17, 2005

Death Railway in Kanchanaburi

15 mei 2005...
Bareng Elif dan Budi, kami ikut tour ke kanchanburi. Peserta tour dijemput dari hotel masing-masing dengan van, dan dari beberapa van kemudian dijadikan satu di bus besar. Kami berangkat pk. 08.00 dari Bangkok. Perjalanan sekitar 2 jam, untuk sampai di Kanchanaburi Province.

Tempat yang kami kunjungi pertama adalah World War II Museum. Di museum ini "diceritakan" tentang pembangunan "death Railway". Jalur kereta api ke Myanmar yang dibangun oleh Jepang dengan menggunakan tawanan perang, yang mengorbankan nyawa puluhan ribu orang. Di sini pengunjung juga dapat melihat foto-foto dan benda-benda asli yang berhubungan dengan pembangunan rel kereta tersebut.

Dari sini kemudian kami mengunjungi Kanchanaburi War Cemetery yang terletak di seberang museum tersebut.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju ke "death railway"-tempat rel kereta tersebut. Akibat pem-bom-an pada waktu perang dunia II, dari rel kereta yang ada sekarang, hanya tinggal sedikit rel kereta yang asli. Antara rel yang asli dan yang dibangun ulang, dibedakan dari bentuknya. Rel yang asli, "pagarnya" berbentuk lengkung setengah lingkaran, sedangkan yang dibangun ulang, berbentuk kotak trapesium. Di tempat ini juga dapat melihat lokomotif yang digunakan selama perang dunia II, yang terdapat di dekat rel. selama berjalan di atas rel ini, kami diingatkan untuk berhati-hati, karena rel kereta ini masih aktif digunakan.

Selesai dari sini kami kemudian melanjutkan perjalanan ke stasiun kereta, untuk naik kereta mengikuti jalur "death railway" sampai ke stasiun Nam-Tok, yang merupakan stasiun kereta Thailand - Myanmar terakhir yang masih ada. Sepanjang di perjalanan, kereta melewati daerah-daerah dengan pemandangan-pemandangan indah.

Setiba di stasiun Nam Tok, kami kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus menuju River Kwai Village Hotel, yang terletak di tepi sungai Kwai Noi. Kami makan siang di restaurant hotel ini. Selesai makan siang, kami naik perahu menyusuri Sungai Kwai Noi, yang merupakan acara terakhir sebelum kami kembali ke bangkok.

Note: Tour ini seharga THB 1000, sudah termasuk makan siang, transport, tiket kereta.

Read & See More…

Sunday, April 10, 2005

Semalam di Malaysia...

On our way to go back home to Jakarta, we stopped by Kuala Lumpur. After 2 hours Air Asia flight, we landed safely at 18.20 in the modern and sophisticated Kuala Lumpur International Airport (KLIA). We went to taxi counter, bought a round-trip ticket of 67.4 Ringgit (airport to city), and 58.4 Ringgit (city to airport). Taxi ride took about 1 hour as KLIA was located in the suburb. We arrived at Sheraton Hotel which was strategically located in prime business district, within close proximity to Monorail station and Dang Wangi Train station. Post checking-in, we wandered around and stumbled upon a traditional food house where we had our dinner, traditional Malay Penang Char Kwaytiaw plus a couple of Teh Tarik. Then..., we took train to China Town (Jalan Petaling). It was a bustling night bazaar with specialties to offer: souvenirs, clothes, food. At night, we took train to go back to hotel as we decided not to take taxis (all the taxi drivers we encountered did not want to use their meters, instead had their own inflated rates).

April 8, 2005
The day started with visiting the Petronas Towers, amongst the tallest towers in the world (491.9 m). We took the train and were alight at KLCC station. We had chance to rise up to the skybridge level (nobody is allowed to go to the peak). Our visit to the Skybridge was accompanied by an English speaking guide. There was no Entry fee and we did not have any issues with queue as it was weekday. The story would be different during weekends. We also went around the park around the tower complex.

We proceeded by train again to having our walking tour in the old city center which started from Masjid Jamek (Jamek Mosque), KL's most picturesque mosque with a delightful Moghul design. Then, we went to Dataran Merdeka, which lies in front of Sultan Abdul Samad's Building, a unique blend of Victorian and Moorish art. In the afternoon, we took the monorail to go to Bukit Bintang shopping streets. We had our quick lunch at a small food stall near the monorail station. We continued along the streets, passed thru several upscale shopping malls, protected from the rain in the outside.

The journey continued to Central Market (near Pasar Seni Train Station), a unique market dedicated to selling handicraft (batik, keris, sculptures, etc) and souvenirs. It had a fancy art-deco design surrounded by colonial-styled buildings/shop houses. We bought a couple of souvenirs of Mini Petronas Towers for friends and family. The price was definitely way much cheaper than the ones sold in Petronas complex, and we could even bargain more. Speak Malay or Indonesian to get even rock bottom cheaper price :-) In the evening, we went back to see the illuminated Petronas, took pictures of them and explored the huge Suria KLCC shopping mall just under the tower. We had our dinner in KFC in this mall and bought some snacks for late night supper.

April 9, 2005
Take away breakfast at food stall. Our taxi was ready in front the hotel, 15 minutes prior to departing time. Another 1 hour to the airport, and Jakarta... here we come !



Read & See More…

Monday, March 14, 2005

Ayutthaya : The Ancient Capital of Thailand

Our trip to Ayutthaya happened on Mar 13, 2005. Ayutthaya, the old capital of Thailand, is located not far from Bangkok, about 1.5 hours train trip. The city used to be one of the marvellous cities of prosperous South East Asia. Unfortunately, it was devastated and levelled during war campaign with the Burmese. Modern Ayutthaya still keeps all its ruins, tracing back from the glorious past. It is now one of the World Heritage Site, and is under supervision of UNESCO.
Getting there
Willy had been to Ayutthaya once many years ago during his first trip to Thailand. Now since Astrid and Rudy were visiting, we decided to take them to Ayutthaya, since Visca had also not yet been to the place. We took train from Hua Lamphong station which was leaving for Chiang Mai. It departed at 09.30 and arrived in Ayutthaya at 10.51. The train fare was only 40 Baht (air-con) to Ayutthaya, but without seat number. It means if there were empty seats due to few passengers travelling to Chiang Mai, we were allowed to occupy them.
The Ayutthaya trip
We had to cross the river separating the train station to the city area by paying 2 Baht per person. We then hired a song-thaew to take us around the archaelogical complex. The negotiated fare was 150 Baht/person for 4 hours trip. Our original plan was to hire bikes, but we were very lucky not to have done so as the weather had been extremely hot during that summer, also because the temples are located quite far one from another making it very tough to explore by bike.
Most of the temples and shrines were in state of ruins as they were all destroyed during the war with the Burmese. However, we found some temples to be in quite a better condition. The first wat that we visited was Wat Chai Mongkhon, which is still in a relatively good condition. It has an immense stupa, surrounded by a lot of Sitting Buddha statues, has a big reclining Buddha statue. Ticket is 20 Baht, and free for Thais and Willy (since Willy speaks good Thai without accent and has a work permit :-) Next is the Wat Phra Mahathat... a ruin, but it has a unique feature, i.e. a Buddha statue head which is coming out of tree trunk. Ticket was 30 Baht (free willy :). Then, there was Wat Ratburana. Just like Wat Phra Mahathat, this one is also ruins. Here, visitors can climb up to the stupa, and enter it to see some of the nicest mural paintings in the inside.
Wat Phra Si Sanpet was our next wat, the biggest wat in Ayutthaya. It is the most popular wat in Ayutthaya, and has been featured in a lot of brochures and postcards. It also usually held Thai traditional dance performance illuminated by spectacular lights. There were a lot of food and souvenir vendors nearby.
Apart from temples, we also visited Baan Chang (Elephant's house) where visitors can take photos with or ride on the elephants.
Getting back
We took the same train and departed at 15.48, arrived in Bangkok at 17.35. The fare was cheaper (non- air con) at 20 Baht only.


Read & See More…

Monday, February 21, 2005

Time Was Frozen in Laos ...

Perjalanan kami ke Laos (Vientiane, Luang Prabang & Vang Vieng) dimulai dari kota Vientiane. Sebagai ibukota Laos, Vientiane memiliki posisi yang unik. Tidak seperti ibukota negara lain, yang umumnya terletak di tengah, Vientiane terletak di perbatasan dengan Thailand - dengan kota Nongkhai. Letaknya yang sangat berdekatan dengan Thailand, mengakibatkan penduduk di sini, hampir semuanya bisa berbahasa thai, hal ini juga ditunjang dengan kemiripan antarkedua bahasa tersebut.

Walaupun untuk sampai ke Vientiane, ada pesawat dari Bangkok langsung ke Vientiane, namun kami memilih naik pesawat dari Bangkok menuju Udon Thani, karena kami ingin melihat kota-kota lain (walaupun hanya sekilas), dan juga terutama karena perbedaan harga pesawat yang hampir 2 kali lipat. Pesawat berangkat sekitar pk. 07.30, dengan lama perjalanan sekitar 1 jam. Setiba di airport Udon Thani, kami naik van menuju ke Nongkhai. Van ini tersedia di airport dan diorganisir oleh airport Udon Thani, dengan biaya THB 100/orang. Perjalanan dari Udon Thani ke Nongkhai sekitar 30 menit.

Setiba di Nongkhai, kami mengurus imigrasi. Setelah selesai, kami menunggu dijemput oleh teman yang tinggal di Vientiane. Dalam perjalanan ke Vientiane, kami berhenti sekali di imigrasi Laos. (note: dari Nongkhai bisa juga naik bus menuju Vientiane. di dekat imigrasi Nongkhai terdapat tempat menunggu bus yang semuanya ke arah Vientiane, dengan biaya THB 10. Bus ini akan berhenti di imigrasi Laos, dan penumpang turun untuk mengurus passport, dan setelah selesai penumpang naik kembali ke bus, dan bus melanjutkan perjalanan langsung ke Vientiane).

Setibanya di Vientiane, kami langsung diantar ke Hotel Novotel. Berhubung kami tiba sudah dekat jam makan siang, maka selesai check ini dan beres-beres, kami langsung pergi makan siang di chinese restaurant Miss U, Selesai makan siang, kami diantar kembali ke Hotel dan menyempatkan diri berjalan-jalan di sekitar hotel.

Malamnya, kami pergi ke Kua Lao, restaurant yang menyediakan makanan Laos dan juga Thai. sehabis makan, kami jalan-jalan ke daerah Nam Phu, dareah ini banyak terdapat café dan restaurant. dalam perjalanan kembali ke hotel, kami melewati daerah daerah Patuxai, tempat Victory Monument Laos berada.

Vientiane
15 februari 2005, hari kedua kami di Vientiane ini, diisi dengan acara jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat wisata di Vientiane. Dimulai dari Ho Pha Kaew (Temple of Emerald Buddha). Ho Pha Kaew ini dulunya adalah royal temple.

Kompleks temple ini terdiri atas beberapa bangunan, dengan bangunan utama adalah sim, tempat untuk upacara keagamaan. Di sekililing bangunan ini terdapat koridor dengan banyak patung buddha dalam berbagai posisi, yang sebagian besar ditandai dari sikap tangannya.

Dari Ho Pha Kaew, kami pergi ke Wat Sisaket, yang terletak di seberang Ho Pha Kaew. kompleks wat (=temple) ini juga terdiri atas beberapa bangunan. Sim dalam kompleks ini terletak di tengah, dan disekelilingnya terdapat selasar, yang di dalamnya terdapat patung-patung Buddha. Pada dinding selasar ini terdapat ceruk-ceruk, yang diisi dengan patung buddha. Jumlahnya lebih dari 2000 buah.

Selesai dari Wat Sisaket, kami mengunjungi Patuxai, Victory Monument. Monumen berbentuk seperti Arc de Triomphe di Paris. Dalam monumen ini terdapat tangga untuk mencapai bagian atas monumen. Dari atas monumen ini kita dapat melihat pemandangan kota Vientiane.

Dari Patuxai, kami kemudian pergi ke Pha That Luang, yang merupakan landmark kota Vientiane.

Pha That Luang adalah stupa yang keseluruhannya berwarna emas. Terdiri atas 3 tingkat, dengan tingkat ke-2 dikelilingi oleh 30 buah stupa, dan di tingkat ke-3 terdapat central stupa yang ketinggiannya dari tanah sampai puncak sekitar 45m.

Dari sini, kami kemudian pergi ke Talaat Sao (talaat=pasar, sao=pagi). Walaupun namanya pasar pagi, tetapi pasar ini buka dari pagi sampai sore. Di pasar ini banyak menjual souvenir, dan juga barang-barang lainnya seperti baju, barang elektronik, perhiasan.

Hari sudah menjelang sore, saat kami selesai berbelanja di Talaat Sao. Kami pun kemudian kembali ke hotel untuk check out dan bersiap-siap berangkat ke airport Vientiane untuk pergi ke Luang Prabang.

Dari Vientiane kami naik pesawat Lao Airlines menuju Luang Prabang. Pesawat seharusnya berangkat sekitar pk. 17.00, namun ternyata di-delay. keberangkatan pesawat ini sempat menjadi tanda tanya diantara para penumpang, karena kepastian jam berangkat yang tidak jelas, informasi yang diterima dari beberapa petugas, semuanya berbeda. Namun akhirnya pesawat berangkat juga sekitar pk.19.00.
Pesawat ini sangat kecil, dengan kapasitas sekitar 25 penumpang. Perjalanan dari Vientiane ke Luang Prabang ini sekitar 50 menit. Dari Vientiane ke Luang Prabang dapat juga dicapai dengan jalan darat, namun memerlukan waktu sekitar 8 jam dan jalan antarkotanya berliku-liku.

Luang Prabang
Luang Prabang termasuk salah satu kota tujuan utama turis yang datang ke Laos. Terletak di bagian utara Laos, kota ini dulunya adalah bekas ibukota Kerajaan kuno Laos yang bernama Lan Xang (lan=jutaan, xang-gajah). Luang Prabang terkenal akan keindahan kuil-kuilnya dan juga pemandangan alamnya. Mengingat kota ini termasuk dalam salah satu "World Heritage Sites" UNESCO,yang mempreservasi baik bangunan-bangunan bersejarahnya maupun alamnya, maka bangunan-bangunan dan kondisi lingkungan di kota ini terjaga dengan baik.

Setibanya di airport Luang Prabang, kami dijemput oleh staff Villa Santi Resort, hotel tempat kami menginap di Luang Prabang. Setelah check in dan berberes sebentar, kami makan malam di restoran hotel, dan langsung tidur.

Pagi harinya kami bangun, dan menyempatkan diri berjalan-jalan di kompleks villa, yang dikelilingi oleh pegunungan dan sawah. Pemandangan yang indah, udara yang segar, membuat kami betah berlama-lama menikmati pagi ini. Acara sarapan pun menjadi lebih lama. waktu terasa berjalan lebih lambat. kami merasa memiliki waktu sepanjang hari ini. tak terasa hari mulai menjelang siang, dan kami harus bersiap-siap untuk acara jalan-jalan kami di kota ini. Menjelang jam makan siang, kami dijemput oleh teman kami yang tinggal di kota ini. Acara hari ini dimulai dengan makan siang di restaurant yang terletak di pinggir Sungai Mekong.

Selesai makan siang, kemudian kami pergi ke Pak Ou Cave. Untuk sampai ke Pak Ou cave ini, kami naik mobil sampai di pinggir Sungai Nam Ou, dan kemudian naik perahu untuk menyeberangi sungai menuju Pak Ou Caves. Selain dengan mobil, Pak Ou caves ini juga dapat dicapai dengan menggunakan perahu menyusuri sepanjang Sungai Mekong sampai di sungai Nam Ou, dengan jarak sekitar 25 km dari kota Luang Prabang.

Pak Ou caves adalah goa yang terletak di dalam pegunungan. Terdiri atas 2 tingkat, bagian bawah dan bagian atas. Goa bagian bawah ini dapat dicapai dengan menaiki tangga. Goa ini masih cukup terang karena masih ada celah-celah untuk masuknya sinar matahari. Di dalam goa ini terdapat banyak patung-patung buddha.

Untuk sampai ke goa bagian atas, diperlukan stamina yang tinggi, karena untuk sampai ke bagian ini, kami harus menaiki anak tangga yang jumlahnya mencapai ratusan. Goa bagian atas ini lebih gelap dibanding goa bagian bawah, namun di depan goa ini disediakan jasa penyewaan lampu senter. Sama seperti goa bagian bawah, di dalam goa ini juga terdapat patung-patung buddha, walaupun jumlahnya tidak sebanyak goa di bagian bawah.

Pemandangan di sekitar Pak Ou caves ini sangat indah, dengan sungainya yang berbatasan langsung dengan pegunungan, dan juga rumah-rumah penduduk yang terdapat di pinggir sungai. Dari Pak Ou caves, kami kemudian pergi ke Royal Palace untuk melihat pertunjukan tari yang diadakan di salah satu bangunan dalam kompleks royal palace ini. Tarian yang dipentaskan adalah tari Ramayana, dan beberapa atraksi dari suku-suku gunung di Laos.

Selesai menonton pertunjukan tari ini, kami kemudian jalan-jalan di night market yang lokasinya tepat di jalan depan royal palace, yang bernama Thanon (=jalan) Chao Phanya Kang. Mulai dari sore sampai malam hari, jalan tersebut tertutup bagi mobil, dan dipenuhi dengan penjual souvenir dan turis. Untuk mencari souvenir, night market inilah tempatnya, karena di sin banyak dijual beraneka barang, mulai dari kain tradisional Laos, tas dengan sulaman bermotif mural painting, lukisan, baju, dan juga makanan.
Selesai memborong, acara hari ini ditutup dengan makan malam di Cafe Samsara, yang lokasinya tidak jauh dari lokasi night market.

Hari terakhir kami di Luang Prabang ini, dimulai dengan kunjungan ke Tat Kuang Si. Tat Kuang Si adalah air terjun yang terletak di luar kota Luang Prabang, sekitar 32 km. Bagian bawah air terjun ini terdapat kolam dengan airnya yang jernih berwarna hijau turquois. Sangat megundang orang untuk berenang. Berhubung hari masih pagi dan tenaga masih banyak, kami memutuskan untuk naik ke bagian atas air terjun. Ternyata perjalanan ini medannya cukup berat. Di beberapa bagian, cukup terjal, Namun sesampai di atas, "petualangan hiking" ini tidak sia-sia. Dari bagian atas air terjun ini, kami dapat melihat pemandangan alam sekitar air terjun yang sangat indah.

Setelah puas mengagumi keindahan alam dari puncak air terjun ini dan juga setelah selesai mengumpulkan tenaga kembali, kami mulai perjalanan “turun gunung” kami.

Di kompleks air terjun ini kami juga menyempatkan diri mengunjungi seekor macan yang ditempatkan di sebuah bangunan yang terdapat di kompleks ini. Menurut informasi, macan tersebut dulunya diketemukan di area ini. Pengunjung dapat melihat macan tersebut dari dekat dan juga memberikan donasi untuk biaya pemeliharaannya.

Berhubung kami semua sudah lapar – mungkin akibat acara “naik gunung” tadi, dan juga waktu telah menunjukan pk. 12 siang, kami mampir ke "warung" yang ada di lokasi air terjun tersebut. Di sini, kami memesan nasi goreng, yang rasanya ternyata tidak jauh berbeda dengan nasi goreng di tanah air.

Perjalanan dilanjutkan kembali. kali ini mengunjungi royal palace museum. Royal palace ini dulunya adalah tempat tinggal Raja Sisavangvong. kompleks royal palace ini terdiri atas beberapa bangunan. memasuki kompleks ini, di sebelah kanan terdapat Haw Pha Bang, bangunan untuk kegiatan keagamaan. Di sebelah kiri terdapat bangunan yang sekarang ini digunakan sebagai tempat pertunjukan sendratari ramayana. di antara kedua bangunan tersebut terletak royal palace.

Royal palace ini terdiri atas banyak ruang: ruang reception, yang keseluruhan dindingnya dilukis mural painting; ruang untuk penyimpanan hadiah-hadiah yang didapat dari negara lain; ruang untuk menyimpan peralatan pertunjukan ramayana, seperti topeng-topeng, dan alat musik; ruang tidur raja dan ratu. di dalam royal palace ini tidak boleh foto-foto dan juga pengunjung harus berpakain sopan. Baju harus berlengan, bila tidak, diharuskan untuk “meminjam” baju yang disediakan oleh pihak pengurus royal palace.

Dari royal palace, kami pergi ke Wat Xieng Thong. lokasinya di tepi sungai Mekong, tidak jauh dari royal palace. wat ini adalah wat yang paling indah dan paling terkenal di Luang Prabang. Dengan dinding yang dilukis dengan warna emas. ukiran-ukiran yang sangat detail, dan juga bentuk atap bangunan yang bersusun dengan ujung melengkung.

Selepas dari wat xieng thong, kami kemudian pergi ke Phu Si hill, yang terletak tepat di seberang royal palace. saat yang paling baik ke pou si hill adalah menjelang matahari terbenam.

Pepatah bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, sangat tepat untuk menggambarkan perjalanan kami di Phu Si Hill ini, yang sesuai namanya terletak di atas bukit. untuk mencapainya kami perlu menaiki tangga yang jumlahnya ratusan. Namun, seperti “perjuangan” kami yang lain, perjuangan kali ini pun tidak sia-sia. Sesampai di atas, sudah terlihat banyak orang, lengkap dengan kamera dan tripodnya. Masing-masing mempunyai satu tujuan : mengabadikan keindahan sunset dengan pemandangan kota Luang Prabang. Selain sunset, di Phu Si hill ini juga terdapat stupa That Chomsi.

Tak lama kemudian, matahari pun terbenam. Kami pun bersiap menuruni Phu Si hill. kami memilih jalur turun yang berbeda dari jalur kami datang tadi. Phu Si hill dapat dicapai dengan tangga selain dari arah royal palace, juga dari arah sungai. Dalam perjalanan turun ini, terdapat wat tham Phu Si, berupa goa kecil yang didalamnya terdapat patung buddha.

Selesai dari Phu Si Hill, kami kemudian makan malam di restaurant indochine. restaurant ini termasuk bangunan bersejarah. dulunya merupakan tempat tinggal dokter kerajaan. lokasinya tidak jauh dari daerah royal palace. Walapun sebenarnya kami ingin berlama-lama makan, sambil menikmati suasana restaurant dengan dekorasi dan lagu-lagunya yang etnik, namun waktu telah menunjukkan pk. 19.00, saatnya kami untuk pergi ke airport. Sebenarnya saat ini masih terlalu pagi bila sesuai jadwal penerbangan, namun mengingat pernerbangan lao airlines kadang suka berubah-ubah jadwalnya, maka demi amannya, perlu dipastikan terlebih dulu jam keberangkatannya. Setelah pasti bahwa pesawat berangkat sesuai jadwal, dan kami masih punya banyak waktu dan souvenir yang ingin dibeli, maka kami pun pergi lagi ke night market. Kali ini kami berbelanja dengan “terencana”, karena sudah tahu apa yang ingin dibeli dan juga memperhitungkan waktu yang diperlukan untuk kembali ke airport, sekitar 15 menit. Sekitar 45 menit sebelum jadwal penerbangan, kami sudah dalam perjalanan kembali ke airport.

Pesawat berangkat sekitar pk. 21.00, menuju Vientiane. Kali ini kami cukup beruntung, karena kami dapat pesawat yang besar dan juga tidak ada keterlambatan terbang.

Vang Vieng
Perjalanan kami berikutnya setelah Luang Prabang adalah Vang Vieng. Vang Vieng terletak di sebelah utara Vientiane. Bersama dengan Luang Prabang, Vang Vieng termasuk salah satu kota tujuan utama turis yang datang ke Laos. Terletak di tepi sungai Nam Song dan dikelilingi oleh pegunungan, menjadikan Vang Vieng terkenal akan keindahan alamnya. Kota ini juga terkenal akan goa-goanya. Banyak tour travel yang menawarkan paket wisata ke goa juga kayak dan tubing.

Kami berangkat ke Vang Vieng dari Vientiane. Perjalanan dengan mobil ini memakan waktu sekitar 3 jam.

Sesampainya di kota Vang Vieng sekitar pk. 12 siang, kami langsung menuju ke bungalow Thavonsouk, tempat kami menginap di Vang Vieng. Bungalow ini berbentuk baan lao (=rumah Laos). Pemandangan dari bungalow ini sangat indah, karena lokasinya tepat di tepi sungai nam song, dengan latar belakang pegunungan.

Selesai check in, kami pergi makan siang di Thanon Luang Prabang (thanon=jalan). Thanon ini adalah jalan utama, banyak terdapat restaurant dan tempat-tempat yang menawarkan berbagai paket kegiatan yang dapat dilakukan di Vang Vieng.

Selesai makan siang, kami langsung memulai “eksplorasi” kami. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah goa yang paling terkenal di Vang Vieng, Tham Jang Cave. Goa ini terletak di tepi sungai. untuk masuk ke daerah goa ini, harus menyeberang jembatan yang bentuknya seperti golden gate di san fransisco. Goa ini terdapat di dalam gunung, sehingga untuk masuknya perlu mendaki terlebih dulu. Untunglah untuk “pendakian” ini sudah dilengkapi dengan sarana tangga.

Dalam goa ini sudah dilengkapi dengan penerangan listrik, sehingga kita dapat melihat dengan jelas stalaktit dan stalakmit yang banyak terdapat di goa ini.
Setelah selesai menelusuri goa ini, kami pun turun, dan “menjelajah” daerah sekitar goa ini. Lingkungan tempat goa ini berada sangat hijau. Banyak binatang ternak yang merumput di lapangan rumput yang banyak terdapat di daerah ini.

Selepas dari goa ini, kami melanjutkan perjalanan kami ke tempat-tempat lain yang tidak jauh dari goa ini. Semuanya indah. Seluruh indra kami terasa disegarkan kembali. Angin sejuk yang membelai kulit, udara segar yang kami hirup, keheningan dengan suara-suara alam, dan tentunya pemandangan yang sangat indah untuk dipandang. Ingin rasanya kami untuk dapat menghentikan waktu dan menikmati saat-saat itu sepuasnya. Namun waktu terus berjalan, dan tak terasa malam pun tiba.

Untuk makan malam, rencananya kami akan mencoba tempat makan pinggir sungai, namun karena daerahnya sangat gelap dan juga tidak ada tanda-tanda pemiliknya, kami memutuskan untuk makan di thanon Luang Prabang lagi. Kali ini kami mencoba restaurant yang berbeda.

Selesai makan malam, kami menyempatkan untuk jalan-jalan di sekitar thanon ini. banyak toko-toko souvenir di jalan ini. Setelah selesai berbelanja beberapa souvenir, dan snack untuk sarapan besok, kami kembali ke hotel.

Keesokan harinya, yang merupakan hari terakhir kami di Vang Vieng, kami isi dengan acara jalan kaki menyusuri area yang berada tidak jauh dari hotel. Melintasi sawah yang dikelilingi pegunungan, menyeberangi sungai dengan airnya yang jernih sehingga bebatuan yang ada didasarnya dapat dengan jelas terlihat, dan juga tidak lupa foto-foto sepanjang acara jalan kaki ini. Walaupun masih ingin terus menikmati acara jalan ini, menjelang makan siang kami kembali ke bungalow untuk check out. Hari ini kami harus kembali ke Vientiane, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan pulang kami ke Bangkok.

Sesampainya di Vientiane, kami diantar sampai ke imigrasi Laos. Dari sini, kami naik van yang banyak terdapat di sekitar imigrasi. Berhubung kali ini naik van-nya yang private (hanya berdua - tanpa penumpang lain), biayanya sekitar THB 600/van. Van ini berhenti sekali di imigrasi Nongkhai, dan kemudian melanjutkan perjalanan langsung menuju airport Udon Thani. Dari Udon Thani kami naik pesawat
Thai Airways sampai ke Bangkok.

Catatan penulis: kami rencana ingin datang lagi ke Vang Vieng, karena masih banyak kegiatan yang ingin dicoba, terutama kayak di sepanjang sungai nam song.

Read & See More…

Monday, December 06, 2004

Sunflowers and Dam in Lopburi, Thailand

Yesterday on Dec 4, 2004, we had a short weekend getaway to Lopburi, a very exciting place to watch sunflower blooming. Very simple, we just went to Hualamphong station, buy a one day train tour package at the ticket counter, only 300 Baht per person (note : this tour is only available on weekends). We think it's very worth it, 300 Baht, and you got the round trip train ticket plus 3 meals (2 snacks and 1 packaged lunch)! Train departed at 8.05 a.m., passed thru all the Bangkok stations, Ayutthaya and Saraburi. The journey was fulfilled with a lot of informations passed by a guide, which (not so fortunate enough for foreign visitors) was all in Thai.
After 3 hours journey, we could see a lot of sunflower plantations along the way. They were fabulous ! Too bad because of the ever-lasting drought this year, some of them were drying to death. We stopped at only one farm. They sold a lot of things related to sunflower: sunflower honey, souvenirs taking form of sunflower (bookmarks, umbrella, artificial sunflowers). After paying 5 Baht, everybody - being extremely excited - rushed across the field. Poor sunflowers, a lot of them got squeezed. Great pictures ! Huge numbers of sunflowers plus a very clear blue sky. Our journey was then continued to Pasak Cholasid Dam. Good view, worth to visit more than once. The railway track cuts across the dam, forms an "S" curve which - we bet - would look terrific from the sky (the view has been in fact cover of the famous guide book : "Unseen Thailand"). The tourism of Pasak Cholasid Dam was said to help covering the huge cost of building the dam which irigates the surrounding lands.


Lopburi with its sunflower has just been promoted recently. It is said that the King of Thailand had the idea of maximizing this beauty to tourism.

Read & See More…

Saturday, December 04, 2004

phuket, phi phi, phang nga

Phuket, Phi Phi Islands (Krabi Province) dan Phang Nga Bay are all located in the southern Thailand. They are famous for the breathtaking views of their beaches and waters. Our activities for our vacation on Nov 13-15, 2004 were mostly swimming, snorkelling, and sightseeing. Sand so white, sea so blue, a perfect weekend getaway. We booked our tour package in Bangkok for 6,000 Baht/pax and took Nok Air (1,250 Baht/pax - one way) for about 1 hour from Bangkok to reach Phuket International Airport. The airport is so strategically located on the beach that passengers can see directly to the sea and surrounding islets.
Day 1 : Phuket Island
Arriving at the Phuket airport, we were picked up by the tour organizer taking us straight to our sightseeing tour. There were only the two of us plus the driver and the guide :-). We went to Khao Rang (Rang Hill) to see the Phuket town from above, Chalong Temple (housing one of Buddha's relics), Pearl farm/shop, cashew nut factory, gem factory, and last was Promthep Cape. Promthep has the most southern tip of Phuket Island (which takes form of a turtle), from where one can see the 3 famous bays : Kata, Karon and Patong. We had lunch in one of the nicest restaurant we had been, it is located by the beach where we could see the yacht around the waterfront. We were then driven to our hotel: Deevana Hotel. It is located on Patong Beach, the most famous beach on Phuket, with a strong resemblance to Kuta Beach in Bali. In the evening, we went around Patong beach and had our dinner at one of the street hawkers. By the name itself the word Phuket is coming from Malay word Bukit which means hill. A lot of places and islands in Southern Thailand are in Malay due to close proximity to the Malay Peninsula in Malaysia & Malay achipelago in Indonesia.

Day 2 : Phi Phi Islands & Phuket Fantasea
The word Phi Phi might originate from Malay word Pi Api (Fire). We were picked up by the tour agent at 08.00 by van and they delivered us up to the ferry harbour. We then took a big boat/ferry to Phi Phi Islands which could contain up to 100 passengers. The guide was bilingual (Thai and English) and was - surprisingly - very fluent conversing in English. The first stop was Phi Phi Don (Big Phi Phi) Island. We were not dropping by the island yet, but istead just took some nice pictures of the island with its limestones and yachts. Then we headed towards Phi Phi Ley (Little Phi Phi) where we had our snorkelling in the Maya Bay (which became famous after being used as setting for Leonardo diCaprio's The Beach movie). The snorkelling equipment was provided by the tour operator. After about 1 hour of snorkelling, we proceeded back to Phi Phi Don to have lunch. We were given free time on this island. Phi Phi Don had a lot of hotels, shops, and dive schools, even a 7-11 school. One can have many other activities besides swimming and sunbathing, such as parasailing, canoing, etc. At 16.00 we were all back to our boat to go back to Phuket.

Evening time, we went to Phuket Fantasea which is located on Kamala Beach for its dinner and shows. It was such a well organized package which included hotel pick up. Phuket Fantasea is a kind of mini theme park with a spectacular performance. The show was amazing. It involved many kinds of animals, from elephant, chicken, goat, etc. It also has a magnificent lighting and special effects. The kinnaree (angels) seemed so really flying above the grounds. It was like the whole hall was used as stage. Before the show, visitors can have dinner (buffet, included in the ticket price, normal fare = 1,500 Baht) and/or going around the theme park. We had chance to take picture with a tiger pup. The show finished at 23.00.


Day 3 : Phang Nga Bay
We were picked up by our tour agent at 08.00 by van, picked some other visitors then went straight to Phang Nga province. Our co-visitors were an Israeli guy, Thai couple, and.. surpisingly an Indonesian family! First we visited Monkey Cave, like its name, it was full of monkeys. Then we took small motor longtail-boat, cruising along the mangrove forest, passing by beautiful limestone hills around Phang Nga Bay National Park. We stopped on Koh Phing Kan and James Bond Island (the island was featured in one of James Bond movies). After enjoying our time there, we took our long tail boat again to go for lunch on a Muslim floating village. Some of the residents speak Malay, hence we just spoke Malay to them. After lunch, we were back to our pier, then took van to go back to Phuket. We were dropped at the airport, then took our Air Asia flight back to Bangkok
.

Read & See More…

Wednesday, August 18, 2004

Chiang Mai and Chiang Rai, Thailand

Liburan kami ke Chiang Mai ini sebenarnya tergolong dalam “liburan tak terencana”. Bermula dari niat kami sekedar ingin mencoba naik kereta jarak jauh di Thailand, kami pergi ke stasiun kereta api Hua Lamphong untuk mencari informasi rute-rute kereta api. Kami pun mendatangi pusat informasi di stasiun ini. Bapak petugas informasi sangat ramah dan membantu. Kami diberikan informasi rute-rute KA yang ada di Thailand, dan juga rekomendasi tempat-tempat yang dapat dikunjungi, salah satunya adalah Chiang Mai. Melihat kami tertarik, Bapak petugas ini pun menyarankan kami untuk pergi ke counter tour travel yang ada di stasiun ini, bahkan menyempatkan diri untuk mengantar kami ke counter tersebut. Dan tak lama kemudian, tiket kereta api dan voucher menginap di hotel sudah di tangan kami.

12 Agustus 2004, kami pun berangkat ke Chiang Mai. Naik kereta api kelas 2 ber-AC jurusan Bangkok-Chiang Mai. KA berangkat pk. 18.00. Tak lama setelah KA berangkat, petugas kereta mulai mengedarkan menu makan malam. Selesai makan, kami melihat petugas KA mulai mengubah kursi beberapa penumpang menjadi tempat tidur. Kami pun menunggu giliran kami. “tempat tidur” ini cukup nyaman, diberi sprei, selimut dan bantal. Dan masing-masing tempat tidur juga dilengkapi tirai, sehingga penumpang tidak dapat saling melihat "tetangganya". Tak lama kemudian, kami pun tertidur. Cukup nyenyak ternyata, karena kami baru bangun saat matahari mulai masuk lewat celah-celah jendela KA. Setelah sikat gigi, kami sarapan bekal yang kami beli sebelum berangkat. Sekitar pk. 06.50 kereta tiba di Chiang Mai.

Chiang Mai
Setiba di stasiun, kami dijemput oleh petugas tour yang langsung mengantar kami ke hotel. Sepanjang perjalanan menuju hotel, kami melihat-lihat pemandangan suasana kota Chiang Mai. Walaupun Chiang Mai adalah kota kedua terbesar di Thailand setelah Bangkok, namun suasana kota ini berbeda jauh dengan Bangkok. Bila Bangkok sangat terasa akan kesibukan metropolitannya, maka Chiang Mai terasa akan suasana tenang. Di Chiang Mai, kita tidak menjumpai gedung-gedung pencakar langit, kemacetan lalu lintas, dan hal-hal sejenisnya. Posisi chiang mai yang terletak di pegunungan, membuatnya kaya akan keindahan alam. Berbagai kegiatan yang dapat dilalukan di sini, banyak yang berhubungan dengan alam, seperti trekking, elephant riding dan bamboo rafting.

Sesampainya di hotel, oleh petugas tour yang mengantarkan kami, kami ditawarkan untuk pergi ke pusat kerajinan tangan chiang mai. sekitar pk. 10.00 kami dijemput dan pergi ke Bo Sang Village, tempat kerajinan tangan di chiang mai. Pembuatan sutra, furniture kayu, laquerware, emas dan batu permata, serta pembuatan payung dari kertas, yang merupakan salah satu oleh-oleh khas chiang mai, dapat dijumpai di tempat ini. Biasanya, di setiap tempat pembuatan kerajinan tangan, pengunjung akan disambut oleh pengelola tempat tersebut, yang akan mengajak pengunjung untuk keliling, dimulai dari bagian proses pembuatan dan diakhiri dengan bagian yang menjual produk tersebut. Ide yang sangat baik, karena dengan demikian pengunjung akan mendapat pengetahuan baru dan juga akan lebih menghargai produk kerajinan setelah melihat tingkat kesulitan untuk menghasilkannya, sehingga pengunjung akan lebih “rela” untuk membeli hasil-hasil kerajinan dengan harga yang relatif lebih mahal dibanding bila membeli di tempat lain. Di samping tentunya juga karena yakin akan kualitas produk yang dibeli.

Dari Bo Sang Village kami kemudian pergi ke Doi Suthep. karena ini diluar paket tour, kami diantar sampai depan Chiang Mai zoo, dari sini kami naik kendaraan umum sampai ke Doi Suthep. Doi Suthep adalah gunung yang lokasinya sekitar 16 km dari kota chiang mai. Di tempat ini terdapat Wat (=temple) Prathat doi Suthep yang dibangun pada masa kerajaan Lanna, kerajaan di Thailand bagian utara, pada sekitar abad ke-14. Untuk sampai ke Wat yang lokasinya di gunung ini, terdapat dua alternatif cara. naik tangga yang berjumlah 300 anak tangga-dinding sisi kiri dan kanan tangga berbentuk naga, atau naik lift dengan membayar sekitar THB 20. Kami memilih naik dengan lift. Sesampai di atas, kami memasuki kompleks temple ini, yang didalamnya terdapat stupa yang sangat besar dengan warna keemasan. Di dalam stupa ini terdapat relic Buddha. Dari atas sini juga, dapat terlihat pemandangan kota Chiang Mai.

Dari Doi Suthep, kami kembali ke hotel. Kemudian pergi ke Night Market yang lokasinya tidak jauh dari hotel-tepatnya di Thanon Changklan. Berbagai produk kerajinan khas Thailand, seperti vas-vas dari kayu, payung-payung kertas, kerajinan perak, T-shirt, dapat dijumpai di sini. Night Market ini buka dari sekitar jam 6 sore sampai sekitar jam 12 malam.

Pergi ke Chiang Mai belum lengkap tanpa ikut acara trekking. Oleh karena itu, hari kedua ini, kami memutuskan untuk trekking. Acara trekking seharga THB 1000 ini terdiri atas tiga aktivitas, elephant riding, trekking dan bamboo rafting.

Pagi hari kami dijemput oleh tour travel di hotel. Dengan menggunakan van, kami pergi ke daerah trekking. Group kami terdiri atas 8 orang, yang semuanya orang Italia. acara pertama adalah elephant riding. Di tempat kami tiba, sudah terdapat beberapa ekor gajah. Di punggung gajah tersebut terdapat kursi yang dapat diisi oleh dua orang, sedangkan sang pawang, duduk di bagian kepala gajah. Di sini, kami diajak masuk ke hutan. Sepanjang perjalanan, gajah-gajah yang kami tunggangi sering berhenti untuk makan tanaman sekitar. Terkadang juga mereka hanya mencabut tanaman dengan menggunakan belalainya, namun tidak dimakan. Dalam perjalanan, sering kami jumpai medan yang sulit, terjal dan licin, namun hebatnya gajah-gajah yang kami tunggangi tersebut dapat melaluinya dengan mudah. Satu hal yang tidak dapat kami lupakan dari acara ini adalah saat dompet kami terjatuh, gajah tersebut dapat mengambilkannya dengan menggunakan belalainya dan menyerahkan pada sang pawang! Acara ini menunggang gajah ini berlangsung sekitar 30 menit.

Sesudah itu, kami melanjutkan kembali perjalanan kami dengan van ke tempat trekking. Jalur trekking kami mencakup acara melintasi sawah, melihat air terjun, dan juga ke tempat tinggal suku-suku gunung. Kami mengunjungi suku Hmong, dan suku Karen, dua dari 6 group besar etnik suku yang ada di Thailand utara. Suku-suku lainnya adalah Akha, Lahu, Yao and Lisu. Di sini kami dapat melihat tempat tinggal dan kegiatan yang mereka lakukan. Para wanitanya umumnya menenun kain. Kami dapat membeli kain tenunannya itu di tempat ini.

Acara trekking ini ditutup dengan acara bamboo rafting. Masing-masing bamboo dapat dinaiki 4 orang, dan 1 pemandu. group kami terbagi menjadi 2 bamboo.

Kami tiba di hotel kembali sore hari. Langsung bersiap diri, untuk acara kanthoke dinner, makan malam khas chiang mai. Sekitar pk. 7 malam, kami pun dijemput. Dalam van sudah terdapat beberapa orang yang sudah dijemput terlebih dulu. Perjalanan dari hotel kami ke tempat kanthoke dinner sekitar 20 menit. Setibanya, kami disambut oleh dua orang yang berpakaian tradisional thai, yang mengantar kami ke tempat makan. Kami diantar sampai ke tempat duduk kami. Semua duduk bersila di lantai yang beralaskan karpet. Tak lama, makanan pun tiba. Disajikan dalam pinggan khas Thailand, yang diatasnya terdapat mangkuk-mangkuk kecil berisi makanan. Menu yang disajikan ada 7, dan semuanya khas Thailand (tentunya). Ada beberapa diantaranya yang berhasil kami identifikasi namanya: Kai tod (ayam goreng), nam phrik nhum (sambal khas Thailand utara) yang disajikan dengan sayur-sayuran segar (di Indonesia kita sebut lalap), dan kao (nasi). Nasi di Thailand ada 2 macam, nasi putih yang biasa kita makan (biasanya disebut steam rice), dan ada nasi ketan (biasanya disebut sticky rice). Ruang tempat kami makan, terdapat panggung. Dan selama acara makan ini, dipentaskan acara tari-tarian, yang sayangnya kami tidak berhasil tahu namanya. Selesai acara makan, kami semua diantar menuju ke tempat “teater”. Di sini dipentaskan beberapa atraksi dari suku-suku gunung Thailand utara.

Di tempat khantoke dinner ini juga terdapat stall-stall yang menjual souvenir-souvenir khas Thailand utara. Kami pun menyempatkan diri untuk mampir setelah pertunjukan selesai. Para penjaga stall semuanya berpakaian tradisional suku-suku gunung.

Tak lama, kami semua pun diarahkan kembali ke tempat van. Masing-masing van dibagi berdasarkan daerah hotel. Satu van biasanya mengantar ke beberapa hotel yang lokasinya berdekatan. Kami pun tinggal memilih van yang ke arah hotel kami. Acara ini terorganisir dengan baik sekali. Mulai dari penjemputan dan pengantaran, pengaturan tempat makan, dan juga transisi antaracara. Di samping itu, untuk pemesanannya juga sangat mudah. Masing-masing hotel umumnya dapat memesankan tiket ke kanthoke dinner ini.

Chiang Rai
Keesokan harinya, kami ikut tour ke chiang rai. Sama seperti acara-acara tour yang sebelumnya kami ikuti di sini, kami pun dijemput oleh pihak tour pagi hari. Chiang Rai adalah provinsi Thailand yang paling utara. Kota ini didirikan pada sekitar abad ke-12 oleh Raja Mengrai. Chiang rai merupakan ibukota kerajaan lanna, sebelum dipindah ke chiang mai. Sama seperti chiang mai, chiang rai juga bergunung-gunung. Dalam perjalanan menuju Chiang rai, kami berhenti sebentar di Pha Bong Hot Spring. Di tempat ini terdapat fasilitas mandi air mineral, yang baik bagi kesehatan. Sekitar pk. 11 kami tiba di chiang rai. Tempat yang pertama kami kunjungi adalah wat phra keaw. Di kompleks wat ini terdapat stupa besar berbentuk octagonal, dimana dulunya terdapat patung emerald Buddha. Sekarang ini patung emerald Buddha tersebut bertempat di wat phra keaw Bangkok. Dari wat phra keaw kami kemudian mengunjungi golden triangle. Mendengar kata golden triangle, kami langsung terbayang: ladang opium. Golden triangle ini adalah daerah yang berbatasan dengan 3 negara, Thailand, burma dan laos. Dulunya terdapat ladang ganja, yang merupakan sumber dari separuh heroin illegal yang beredar di dunia.


Di sini kami naik perahu ke donsao island (pulau milik laos) dengan tarif THB 300/orang. walaupun donsao ini milik laos, tapi untuk masuk ke pulau ini tidak perlu visa, hanya membayar tiket masuk sebesar THB 20/orang. di pulau ini banyak menjual souvenir.

Dari golden triangle kami pergi ke Mae Sai (perbatasan thailand dengan burma). Di sini banyak toko-toko yang menjual barang-barang dari burma dan juga souvenir-souvenir. Mae Sai adalah tempat terakhir yang kami kunjungi. Dalam perjalanan pulang, kami berkesempatan mengunjungi suku-suku gunung Yao dan Akha.
Sore menjelang malam, kami pun tiba kembali di chiang mai. Kami berdua langsung diantar ke stasiun chiang mai. Sambil menunggu kedatangan kereta, makan malam dulu di restaurant thai yang berlokasi dekat stasiun. Pk. 21.50 KA kami pun berangkat.


Read & See More…

Tuesday, August 03, 2004

Magnificent Angkor Wat & Phnom Penh

We had a good chance to visit Cambodia as part of our vacation. We travelled to Siem Reap, saw the Magnificent Angkor Wat together with other temples, travelled further down alongside the Tonle Sap river, spent 1 night in Battambang, then further to Phnom Penh.

Siem Reap and Angkor Wat
Siem Reap means : the siamese were destroyed. The city was named so since it incurs bad memory amongst Cambodian when their mighty Angkor city was sacked by the Siamese from Thailand. Siem Reap houses the Angkor complex (declared as one of the 7 Wonders) and hence becomes the most important tourist site in Cambodia. Angkor complex itself is as big as the city of Manhattan.
On July 18, 2004, we took Bangkok Airways from Bangkok, the flight took about 1 hour. Willy did not need to apply for Visa for having already had a multiple entry visa, but Visca needed to have one and paid $20. From airport, we went straight to our budget hotel, the Kompol Pich.
The following day, we bought the 3 days pass to Angkor complex at $40 per person. There were also 1 day and one week passess available. We had our tour facilated by a car to be able to see as many temples as possible within 3 days. One thing we saw in most temples was the bare-chested Apsara (heavenly nymph) pictured in most of the walls. In Cambodia, there is also a performance show called Apsara dance in most hotels and restaurants in Siem Reap. Being a temple raiders like us, required a full stamina as most of them needed climbings with very small stairs base. For lunch, we always had it in the Angkor Cafe, located in the complex, average-to-high priced, but were really delicious. Children were everywhere selling anything from food, souvenirs, books about Cambodia/Angkor, and many things.
Below are the key temples we visited in Angkor Complex :
1. Angkor Wat : is the biggest, the most beautiful and the best preserved vs. other temples in the complex. It is a square complex, surrounded by moat. There are 4 gates, whose main gate faces West. This fact of facing West stimulated debates amongst scholars predicting it could have been a tomb of King Suryawarman II in the past. However, West also symbolizes Vishnu, hence Angkor Wat is also called to be a Vishnu temple. The towers have 3 storeys, with the tallest tower stands 35 m above the ground.
2. Bayon : unique temple with a lot of towers having faces sculpted onto them. It is said, those are faces of Jayavarman VII, one of the greatest kings of Angkor.
3. Preah Palilay : the 350m elephant terrace, ornamented with images of elephants, garuda bird and lions.
4. Phnom Bakheng : located on top of Bakheng hill, it contains of 7 steps, representing 7 heavens in Hindu beliefs. To reach the top, either by walking, one can do elephant-back riding. This temple is the perfect place to watch the Tonle Sap lake and Angkor Wat during sunset.
5. Banteay Srey : with its detailed ornaments, the temple is called Banteay Srey or the woman temple. Legends said that it was build either by or for women who admired details.
6. Preah Neak Pean : the temple used to be surrounded by moat. The moat was surrounded by 4 other smaller moats.
7. Ta Prohm : the famous one after Angkor Wat for being shot for Tomb Raider movie. Its uniqueness was the temple looked like being swollen by jungles. Big trunks of trees are everywhere. The old guy who takes care of the cleanliness of Ta Prohm, whose picture was taken for Lonely Planet guide book was still there when we visited. Most visitors wanted to take picture with him and then paid small amount to him.
8. Ta Som : similar to Ta Prohm, also swollen by jungles.


Poypet and Battambang
After 2 nights in Siem Reap, we headed to Phnom Penh by stopping by Poypet and Battambang. Poypet is located in the border to Thailand, and are dotted with casinos. We spent one night in Poypet and got a very good offer to stay in a nice and clean hotel by paying as little as 1000 baht. In fact, the hotel (as most hotels in Poypet) was also a casino, hence it must have wanted us to gamble. We did not, we just looked around, and played a bit of spinballs.


The next day, we spent night in Battambang, a charming town with colonial buildings. It is a second biggest city of Cambodia after Phnom Penh. In the past the city was once part of Thailand, but then returned to Cambodia with the help of the French. We stayed at one of the few hotels in Battambang, the name is Hotel Teo for about $10 per night.

Phnom Penh
It is the capital of Kingdom of Cambodia. It used to be one of the most beautiful cities in Asia. Due to very long civil war in Cambodia, the city was semi destroyed, leaving a semi developed feeling in a lot of places. However, one can still see the traces of its beauty, especially from the city planning and design which was based on design of french cities. The current mayor has done a terrific job in rejuvenating Phnom Penh: the river side is especially fabulous with side cafes along the Tonle Sap river.
Day 1 : we reached Phnom Penh in the afternoon, checked in Hotel Cambodiana. We went straight to Psar Toul Tom Pong which is famous for its souvenirs and handicrafts. We bought a nice miniature of Apsara stone ornament. In the evening, we strolled by foot along the Sisowath Quay (riverside area). We then had dinner at boutique hotel Amanjaya before going back to Cambodiana Hotel.
Day 2 : In the morning we went to Phsar Thmey or New Market. It has a unique art-deco design and is located right in the middle of the city. It is quite popular amongst tourists and locals, sells many things from clothes, electronics, food, flowers, books, etc. We continued our trip to the Royal Palace which is on Sisowath Quay. We paid $3 and extra $2 for camera. The front pavillion was originally used to receive royal guests. Inside, there is the throne hall, and a unique smaller building with french classical design which was gift from Napoleon II. The complex also has the Silver Pagoda whose front building houses Emerald Buddha statue. We then walked to Bali Restaurant for our lunch, as we already missed Indonesian food. We went back to Bangkok taking evening flight.

Read & See More…

Monday, May 03, 2004

My First Trip to Sri Lanka

It was my first trip to Sri Lanka. I was assigned for an onboarding visit in Colombo, March 2004. Hectic days. Jakarta, Singapore, Phnom Penh, Bangkok, Colombo, back to Jakarta... However, it was such a great trip around Lanka. The country is very beautiful. After 2 days of onboarding in Colombo, I decided to extend my stay to 2 days and covered the ancient cities of Anuradhapura, Sigirya, Pollonaruwa. Really wanted to catch Kandy, but there was no time... Well, I am saving Kandy for the future then...
Lanka is like a pearl at the tip of India subcontinent. This Buddhist country has been torn by years of war between Buddhist Sinhaleses and Hindu Tamils, especially in the northern area around Jaffna. Sri Lankans are mostly gentle, friendly and helpful. Sri Lanka or Ceylon is famous for its beaches and tea. Ceylon tea is amongst favorites for tea lovers from all over the world.
Colombo : I explored the ex Portuguese City of Colombo by three-wheeler. It was fast, efficient and affordable. 3-4 hours of strolling across the town gave enough feeling of this old colonial town which was passed from Portuguese to Dutch to British hands.



Anuradhapura : One of the 3 ancient capitals of Lanka (the other 2 were Kandy and Pollonaruwa) forming the UNESCO Cultural Triangle World Heritage site. Anuradhapura today is just ruins. In the past it was a burstling metropolis and one of the center for Buddhism studies, inviting Buddhist pilgrimage from all over Asia.


Sigiriya : My ancient town tour actually started in the 1500 years old Sigiriya Rock fortress located on top of Sigiriya Rock Hill. Sigiriya is located near the ancient town of Habarana. The Lion Terrace, the view from the top, the ancient murals, and the exhausting climbing all added to the joy of this visit.



Pollonaruwa : 2 hours from Anuradhapura is Pollonaruwa, the second great capital of Lanka, between 11th and 13th century. Here one can find ruins of the Royal Palace, royal bath, citadel, council chamber, and many more stupas.




Read & See More…